Alasan Menperin Yakin Investasi Moncer Usai Pemilu 2019

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kanan) dalam acara Indonesia Industrial Summit 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten, Senin, 15 April 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kanan) dalam acara Indonesia Industrial Summit 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten, Senin, 15 April 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meyakini investasi dan ekspansi di sektor manufaktur bakal semakin meningkat usai penyelenggaraan Pemilu Umum (Pemilu) Presiden dan Legislatif pada 17 April 2019 kemarin. Peningkatan ini juga akan terjadi seiring dengan banyaknya proyek prioritas yang berjalan setelah Pemilu 2019.

    Baca juga: Pemilu 2019 Kondusif, Indonesia Bakal Panen Investasi Asing

    “Beberapa proyek prioritas seperti industri Petrokimia, lalu finalisasi peraturan mengenai mobil listrik dan pemberian insentif bagi industri,” kata Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu, 20 April 2019.

    Airlangga mengklaim bahwa tren pertumbuhan industri seusai pemilu akan terjadi karena Indonesia adalah negara yang paling matang dalam penerapan sistem demokrasinya. Kondisi ini menjadi modal pemerintah dalam menarik investasi dari luar negeri.

    Sampai sekarang, Kemenperin belum merilis berapa besar investasi di sektor manufaktur yang sudah masuk hingga tiga pertama tahun ini alias kuartal I 2019. Sementara pada kuartal I 2018, jumlah investasi yang masuk mencapai Rp 62,7 triliun. Rp 21,4 triliun dari dalam negeri dan US$ 3,1 miliar dari luar negeri.

    Data yang sudah dirilis yaitu indeks kinerja industri manufaktur, Promt Manufacturing Index (PMI) oleh Bank Indonesia. Bank sentral ini mencatat PMI kuartal I 2019 naik menjadi Rp 52,65 persen dari angka 52,58 persen pada kuartal I 2018. Angka ini pun menunjukkan industri manufaktur berada di level ekspansi karena melebihi 50 persen.

    Sejauh ini, kata Airlangga, komitmen investasi yang terbaru adalah dari Arab Suadi pada sektor industri petrokimia di Indonesia senilai US$ 6 miliar atau setara Rp 84,31 triliun. Rencana investasi ini telah dibicarakan oleh Presiden Jokowi dan pihak kerajaan Arab Saudi, saat presiden melakukan kunjungan ke negara minyak tersebut, beberapa waktu lalu.

    Arab Saudi ingin melakukan kerja sama untuk menjadikan Indonesia sebagai hub bagi industri petrokimia di Asia Tenggara. Untuk itu, Presiden Jokoowi menginstruksikan jajaran kementerian dan lembaga pemerintah dan non kementerian yang terkait agar segera melakukan kajian untuk bisa memudahkan realisasi investasi tersebut.

    “Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk memperdalam struktur manufaktur dari sektor hulu sampai hilir,” ujar Airlangga. Sebab, industri petrokimia menghasilkan berbagai komoditas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri kemasan, tekstil, alat rumah tangga, hingga komponen otomotif dan produk elektronika.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.