Pemilu Damai, Ini Hal Positif yang Dirasakan Dunia Usaha

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung-gedung bertingkat dikawasan Central Business Distrik di Jakarta, 9 September 2017. James juga mengatakan permintaan ruang perkantoran di CBD area masih stagnan sepanjang 2016. Tempo/Tony Hartawan

    Gedung-gedung bertingkat dikawasan Central Business Distrik di Jakarta, 9 September 2017. James juga mengatakan permintaan ruang perkantoran di CBD area masih stagnan sepanjang 2016. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha Erwin Aksa berujar pera pelaku dunia usaha bersyukur pemilu telah berjalan dengan lancar. Walau, menurut dia, dalam beberapa pelaksanaannya masih kurang sempurna.

    Baca: IHSG Siang Menguat, Saham Saratoga Milik Sandiaga Masih Melemah

    Erwin berujar kestabilan politik sangat penting bagi dunia usaha. "Agar dunia usaha bisa confident dan berinvestasi menaikkan pertumbuhan ekonomi," ujar dia dalam pesan singkat kepada Tempo, Kamis, 18 April 2019.

    Hal senada disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo, Shinta Kamdani. Ia menuturkan dunia usaha menyambut baik hari pencoblosan Pemilihan Umum atau pemilu 2019 kemarin yang berjalan kondusif kemarin.

    "Responsnya positif pemilu bisa berjalan damai," ujar Shinta dalam pesan singkat kepada Tempo, Kamis, 18 April 2019. Shinta mengapresiasi kinerja Tentara Nasional Indonesia dan Kepoliian RI dalam menjaga keamanan selama masa pencoblosan kemarin.

    Meski telah beredar hasil hitung cepat alias quick count dari sejumlah lembaga survei, Shinta mengatakan para pelaku dunia usaha masih menunggu hasil perhitungan asli alias real count dari Komisi Pemilihan Umum. Hasil hitung cepat dari sejumlah lembaga survei menunjukkan kemenangan bagi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo - Ma'ruf Amin atas rivalnya, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

    Meski demikian, Shinta mengatakan Jokowi sudah punya tugas untuk periode keduanya memimpin Indonesia. Menurut dia, pada kali kedua ini bekas Gubernur DKI Jakarta itu mesti melanjutkan reformasi yang sudah berjalan di periode pertama. "Misalnya ketenagakerjaan dan perpajakan," kata dia.

    Di samping itu, Shinta mengatakan Jokowi mesti memperhatikan tiga poin persoalan penting pada periode kedua ini. Persoalan itu antara lain bagaimana pemerintah meningkatkan daya saing Indonesia. Jokowi juga dituntut membangun sumber daya manusia yang unggul. Terakhir, ia menyebut pemerintah juga mesti membangun ketahanan ekonomi.

    Sebelumnya, Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah mengatakan Jokowi mesti bersiap untuk menata struktur perekonomian pada kali kedua pemerintahannya mendatang. "Pak Jokowi harus benar-benar lebih fokus lagi menata struktur ekonomi agar lebih kokoh," ujar dia.

    Menurut Piter Jokowi mesti benar-benar menuntaskan banyak permasalahan ekonomi agar program-program yang sudah dicanangkan bisa berjalan dengan baik. Salah satu permasalahan itu antara lain suku bunga perbankan yang terlalu tinggi.

    Tingginya suku bunga acuan itu, menurut Piter, bisa menghambat investasi masuk ke dalam negeri. Hingga Rapat Dewan Gubernur terakhir, Bank Indonesia masih menahan suku bunga acuan-nya di level 6 persen. 

    Baca: Libur Usai Pemilu, 90 Persen Tiket Kereta Api Jarak Jauh Terjual

    Di samping itu, Jokowi juga masih mesti berhadapan dengan persoalan defisit transaksi berjalan. Persoalan itu, menurut Piter, dapat membuat rupiah begitu rentan ke depannya.

    Simak berita lainnya terkait pemilu di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.