Burhanuddin Abdullah Sarankan Ubah Ketentuan Defisit APBN

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, dalam rapat konsultasi Panitia Khusus Hak Angket Century, di Gedung MPR/DPR, Jakarta (21/12). TEMPO/Imam Sukamto

    Mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, dalam rapat konsultasi Panitia Khusus Hak Angket Century, di Gedung MPR/DPR, Jakarta (21/12). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah menyarankan pemerintah dan DPR mengubah ketentuan defisit APBN yang saat ini dibatasi maksimal sebesar 3 persen setiap tahun fiskal berjalan.

    Baca juga: Sri Mulyani Prediksi Defisit Anggaran 2018 1,87 Persen

    Menurut Burhanuddin, yang berbicara dalam peluncuran buku "Menyimak Turbulensi Ekonomi: Pengalaman Empiris Indonesia" karya Anggito Abimanyu di Jakarta, Senin, 15 April 2019, pengelolaan defisit APBN seharusnya lebih fleksibel, dengan memperhatikan kebutuhan ekspansi belanja pemerintah, namun tetap menjaga kehati-hatian pengelolaan fiskal.

    Dia menyarankan ketentuan defisit maksimal APBN sebaiknya dihitung secara rata-rata dalam satu tahun pemerintahan, bukan setiap tahun fiskal berjalan. "Jadi kalau pemerintah memerlukan anggaran untuk stimulus dalam suatu waktu, bisa dihidupkan stimulusnya dari APBN. Jadi defisit APBN dihitung rata-rata setiap satu kali pemerintahan saja," ujarnya.

    Adapun saat ini, pemerintah mengelola defisit APBN agar tidak melebihi tiga persen setiap tahunnya sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Ketentuan dalam UU tersebut mengacu pada standar Maastricht Treaty yang berlaku di Eropa.

    Burhanuddin menyarankan pemerintah dan DPR mengkaji kembali bentuk adaptasi dari Maastricht Treaty itu. Menurut mantan Gubernur BI yang juga mantan Menko Perekonomian itu, Masstricht Treaty itu hanya sekadar anjuran, dan tidak perlu diberlakukan sebagai Undang-Undang.

    "Jadi ketentuan itu sebenarnya malah membatasi. Itu bisa dipikirkan untuk diubah," ujar dia.

    Pelonggaran defisit APBN, kata dia, dibutuhkan agar pemerintah leluasa memberikan stimulus ke perekonomian, terutama sektor riil. Pelonggaran itu bisa dilakukan, ujar Burhanuddin, asalkan pemerintah benar-benar bisa menerapkan pengelolaan fiskal yang hati-hati dan terukur. "Tapi ada catatan, pemerintah harus hati-hati untuk kelola fiskalnya," ujar dia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.