Menjelang Ramadan, Impor Kurma Tunisia Melonjak Jadi USD 19 Juta

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kurma. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Ilustrasi kurma. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang Ramadan atau puasa, beberapa barang impor mulai membanjiri pasar. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Suhariyanto menjelaskan beberapa barang impor konsumsi yang melonjak salah satunya adalah kurma.

    Baca juga: BPS: Impor Maret 2019 Naik 10,31 Persen Jadi USD 13,49 Miliar

    "Mendekati Ramadan ada impor kurma dari Tunisia yang ikut bertambah, ini sesuatu yang biasa," kata Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin 15 April 2019.

    Suhariyanto mengatakan, sepanjang Maret 2019 impor kurma segar dan kering mencapai US$ 19 juta. Selain kurma, beberapa barang konsumsi yang melonjak impornya pada Maret 2019 adalah anggur dan jeruk mandarin serta AC dan juga mesin-mesin AC.

    Adapun, Badan Pusat Statistik mencatat total impor sepanjang Maret 2019 mencapai US$ 13,49 miliar. Angka ini tercatat naik sebesar 10,31 persen dibandingkan pada Februari 2019.

    “Kalau dilihat peningkatan impor karena peningkatan impor dari neraca non migas, tapi kalau neraca impor migas justru turun 2,7 persen,” kata Suhariyanto di acara yang sama.

    Selain itu, BPS mencatat secara kumulatif total impor Januari-Maret 2019 mencapai US$ 40,7 miliar. Jika dibandingkan Januari-Maret 2018 nilai tersebut tercatat turun 7,40 persen.

    Sedangkan dari sisi penggunaan barang, secara month to month, impor untuk barang konsumsi naik sebesar 13,49 persen atau senilai US$ 1,15 miliar. Adapun dari impor bahan baku atau bahan penolong naik sebesar 12,34 persen atau senilai US$ 10,14 miliar. Terakhir untuk barang modal naik sebesar 0,47 persen atau senilai US$ 2,20 miliar.

    Baca berita Ramadan lainnya di Tempo.co

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.