Benarkah Kondisi Garuda Seperti yang Disebut Prabowo?

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Garuda Indonesia. garuda-indonesia.com

    Garuda Indonesia. garuda-indonesia.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasangan Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto dalam debat kelima pilpres mengatakan bahwa maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. tengah dalam kondisi morat-marit. 

    Baca: HUT BUMN, Menteri Rini Umumkan Laba Tembus Rp 200 Triliun

    “Untuk Garuda (Indonesia) dari Bloomberg, itu baru untuk untung kalau penumpangnya 120 persen. Berarti tidak bisa untung-untung kalau begitu terus pengelolaannya,” katanya di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu 13 April 2019.

    Padahal, mengutip  data Bloomberg, Prabowo mengatakan bahwa sebuah maskapai Jepang, yaitu All Nippon Airways, sudah bisa untung kalau keterisian kursi minimal 60 persen.

    Berdasarkan laporan keuangan 2018, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. berbalik untung senilai US$ 809,84 ribu pada 2018. Posisi itu berbalik dari kerugian US$ 216,58 juta pada 2017.

    Dari sisi pendapatan, maskapai pelat merah itu membukukan U$4,37 miliar pada akhir 2018. Posisi itu naik dari US$4,17 miliar pada 2017.

    Lebih detail, pendapatan perseroan dari penerbangan berjadwal naik dari US$ 3,40 miliar pada 2017 menjadi US$ 3,53 miliar pada 2018. Selanjutnya, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal senilai US$ 266,86 juta.

    Di pasar modal, saham emiten berkode GIAA itu tengah berada dalam tren positif. Sebab, harga saham telah tumbuh 46,98 persen hingga periode berjalan 2019 satau sampai dengan penutupan perdagangan, Jumat 12 April 2014. Harga saham ditutup di level Rp 438 pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

    Berdasarkan catatan Bisnis, Manajemen Garuda Indonesia menarget profit atau laba bersih US$7 juta dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Suara Jokowi - Ma'ruf dan Prabowo - Sandiaga di Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum mencatat pasangan Jokowi - Ma'ruf menang di 21 provinsi, sedangkan Prabowo - Sandiaga unggul di 13 provinsi saat Pilpres 2019.