Pertengahan April, BI: Aliran Modal Asing Masuk Rp 89,2 Triliun

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara memberikan keterangan pers di Gedung BI, Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Oktober 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. TEMPO/Tony Hartawan

    Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara memberikan keterangan pers di Gedung BI, Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Oktober 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan total inflow atau aliran modal asing masuk ke Indonesia hingga minggu kedua April 2019 sebesar Rp 89,2 triliun. Menurut dia, angka itu masih bagus, apalagi jika dilihat dari lelang Surat Berharga Negara atau SBN yang oversubscribbed atau kelebihan penawaran.

    Baca: BI: Kegiatan Dunia Usaha Meningkat pada Triwulan I 2019

    Dia mengatakan inflow itu secara month to date di pasar saham sekitar Rp 3,86 triliun, sedangkan di pasar SBN Rp 1,2 triliun. Angka itu, kata Mirza, menunjukkan pasar sahamnya lebih bagus dari SBN secara MTD.

    "Tapi year to date-nya pasar saham itu sekitar Rp 15,9 triliun, ke pasar SBN masuk Rp 75 triliun. Jadi YTD pasar SBN masih jauh lebih bullish Rp 75 triliun YTD dibanding pasar saham," kata Mirza saat ditemui di Masjid Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 12 April 2019.

    Jika dibanding tahun lalu, menurut Mirza, pasar saham sudah jauh lebih bagus. Dia mengatakan tahun lalu aliran modal keluar atau minus Rp 24,9 triliun. Sedangkan sekarang positif inflow Rp 15,9 triliun.

    Pada SBN tahun lalu, kata dia, positif Rp 34,5 triliun, lebih rendah dari saat ini yang positif Rp 75 triliun. "Jadi persepsi investor terhadap Indonesia masih positif di 2019," ujarnya.

    Menurut Mirza, persepsi investor itu tentu yang didorong dari angka makro ekonomi yang baik. Seperti inflasi yang terkendali, dan dari sisi budget anggaran pemerintah juga menunjukkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN terkendali.

    "Target Kementerian Keuangan defisit 1,8 persen 2019, jadi suatu defisit yang sangat prudent," ujar Mirza. Faktor lainnya, menurut Mirza juga dipengaruhi oleh tren dari defisit transaksi berjalan atau current account deficit yang membaik dibanding kuartal IV 2019.

    Baca: BI Yakin Indonesia Aman dari Dampak Krisis di Turki dan Argentina

    BI juga memproyeksikan neraca perdagangan akan surplus kembali. "Kan Januari defisit ya dan Februari surplus. Maret angkanya masih roll ya, sudah ada indikasi tapi tunggu lah. Saya rasa sesuai tren dari CAD yang membaik," ujar Mirza Adityaswara. "Indikasinya surplus."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.