Kominfo Targetkan Chatbot Anti Hoaks Bisa Segera Digunakan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Kemendagri dan BNPP mengikuti apel bersama di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Jumat, 5 April 2019. Peserta apel juga menggunakan kaos seragam bertuliskan

    Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Kemendagri dan BNPP mengikuti apel bersama di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Jumat, 5 April 2019. Peserta apel juga menggunakan kaos seragam bertuliskan "Sukseskan Pemilu Pilpres Serentak 2019. Lawan Hoax, Kampanye Berujar Kebencian Fitnah". TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kian masifnya beredar berita palsu atau hoaks yang mengkhawatirkan belakangan ini membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kementerian Kominfo meluncurkan Chatbot Anti Hoaks. Aplikasi tersebut adalah layanan berupa program komputer yang dirancang untuk menjawab pertanyaan publik tentang informasi yang kebenarannya diragukan.

    Baca: Polisi Ingatkan Penyebar Hoax Akan Dihukum Penjara 10 Tahun

    Chatbot Anti Hoaks dikembangkan Kominfo bersama Prosa, perusahaan rintisan pengembang natural language processing. Aplikasi ini terhubung dengan aplikasi pesan instan Telegram melalui akun @chatbotantihoaks.

    "Bisa tanya berdasarkan kata kunci atau copy artikelnya," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel A Pangerapan dalam peluncuran layanan aplikasi Chatbot Anti Hoaks di Jakarta, Jumat, 12 April 2019.

    Klarifikasi hoaks yang nanti dijawab melalui chatbot berasal dari pangkalan data mesin AIS Kementerian Komunikasi dan Informatika. Layanan chatbot ini nantinya juga bisa dipakai melalui aplikasi WhatsApp dan Line, namun Kominfo belum bisa memastikan kapan persisnya.

    Samuel berharap aplikasi itu dapat digunakan dalam waktu dekat. "Kalau bisa satu sampai dua minggu terwujud karena ini tinggal koordinasi teknis saja," ujar dia.

    Layanan chatbot ini ditujukan khususnya untuk pengguna Internet yang lebih sering mendapatkan informasi melalui layanan pesan singkat yang sumbernya berasal dari penerusan pesan (forward message).

    CEO Prosa, Teguh Eko Budiarto, menambahkan perusahaan rintisan itu juga sedang mengembangkan layanan untuk verifikasi kebenaran foto, sehingga tidak terbatas pada teks. "Inginnya tahun ini," kata dia.

    Sebelumnya, Kominfo sudah bekerjasama dengan WhatsAapp untuk membatasi jumlah penerusan pesan (forward message) dari 20 kali menjadi lima kali, salah satu bagian dalam upaya memerangi hoaks. Selain itu, Kominfo juga terus mengoptimalkan mesin AIS yang bekerja 24 jam dalam tujuh hari, serta didukung oleh 100 anggota tim verifikator.

    Baca: Menjelang Pilpres, Kominfo: Jumlah Hoax Akan Terus Melonjak

    Tim AIS Kemkominfo dibentuk oleh Menteri Kominfo Rudiantara pada Januari 2018. Tim ini bertugas melakukan pengaisan, verifikasi dan validasi terhadap seluruh konten internet yang beredar di cyber space Indonesia, baik konten hoaks, terorisme dan radikalisme, pornografi, perjudian, maupun konten negatif lainnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.