Fintech Siapkan Teknologi Pengaman Kejahatan Siber

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo OVO. Ovo.id

    Logo OVO. Ovo.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan teknologi finansial (fintech) penyelenggara sistem pembayaran menyiapkan strategi pengamanan untuk memproteksi diri dari fraud atau kejahatan keuangan siber. PT Dompet Karya Anak Bangsa atau GO-PAY misalnya yang berfokus pada tindakan pencegahan untuk meningkatkan keamanan dari segi pengguna.

    Simak: Jumlah Penyelenggara Fintech Legal Tembus 106

    “Saat ini kami sedang menunggu izin dari Bank Indonesia untuk menerapkan penggunaan sidik jari (fingerprint) dalam verifikasi transaksi GO-PAY, hal ini akan sangat membantu melindungi keamanan pengguna,” ujar Head of IT Governance GO-PAY, Ganesha Saputra, kepada Tempo, Rabu 10 April 2019.

    Adapun, GO-PAY sebelumnya juga telah menerapkan penggunaan one time password (OTP), personal identification number (PIN), hingga kebijakan batas maksimal transaksi dan saldo yang hanya berlaku untuk pengguna yang sudah terverifikasi.

    Salah satu modus kejahatan siber yang sempat terjadi adalah penipuan melalui pengiriman pesan kode verifikasi oleh pelaku kejahatan siber (fraudster) kepada pengguna. Sejumlah saldo milik pengguna akan terkuras jika kode verifikasi tersebut berhasil didapatkan oleh fraudster. Ganesha menuturkan untuk itu GO-PAY terus melakukan edukasi kepada pengguna agar terhindar dari penipuan berbasis social engineering ini.

    “Kami mengajak dan mengedukasi masyarakat juga pengguna mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan informasi,” katanya. Langkah keamanan lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengaktifkan PIN transaksi, memverifikasi data pengguna dengan mengunggah KTP, termasuk menjaga kerahasiaan kode OTP yang diterima.

    Hal senada juga dilakukan oleh PT Visionet Internasional (OVO), yang menitikberatkan pada sistem keamanan berlapis dalam proses pengisian data dalam aplikasi, untuk melindungi perusahaan dan data pelanggan dari aksi kejahatan siber.

    “Kami melakukannya baik secara manual maupun otomatis dengan teknologi artificial intelligence (AI),” ucap Direktur OVO Harianto Gunawan. Dia mengatakan dalam hal ini OVO menggandeng mitra ketiga yaitu perusahaan keamanan yang berbasis di Singapura, CashShield. “Sehingga kami menjamin bahwa setiap transaksi dan data pelanggan dilindungi, dan tidak dapat diretas dengan mudah.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.