IMF Sebut Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Begini Proyeksi BRI

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial pembangunan proyek jalur layang MRT di Kawasan Fatmawati, Jakarta, 2 Januari 2018. Menurut data PT MRT Jakarta, proyek pembangunan infrastruktur MRT fase I Lebak Bulus-Bundaran HI mencapai 90 persen. ANTARA

    Foto aerial pembangunan proyek jalur layang MRT di Kawasan Fatmawati, Jakarta, 2 Januari 2018. Menurut data PT MRT Jakarta, proyek pembangunan infrastruktur MRT fase I Lebak Bulus-Bundaran HI mencapai 90 persen. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Proyeksi Dana Moneter Internasional atau IMF soal pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 yang dipangkas dinilai tak serta merta berdampak ke Indonesia. Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI, Anton Hendranata memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bakal begitu terpengaruh.

    Baca: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3,3 Persen

    Baru-baru ini, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2019 sebesar 0,2 persen dari angka yang dikeluarkan pada Januari lalu menjadi 3,3 persen. "Yang menggerakkan perekonomian Indonesia, sebagian besar adalah permintaan domestik," ujar Anton di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu, 10 April 2019. Ia menyebut pengaruh itu mungkin saja ada, namun tidak sebesar negara yang terekspos perdagangan internasional.

    Anton yakin dengan pertumbuhan ekonomi Tanah Air lantaran Indonesia masih memiliki momen pemilihan presiden. Selain itu, inflasi di dalam negeri juga cukup terjaga di angka rendah. Sehingga, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih cukup kuat mendorong pertumbuhan ekonomi.

    "Jadi kalau kita mau tumbuh sedikit lebih baik ketimbang 2018 masih ada ruang untuk itu," ujar Anton. Tahun lalu, Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,17 persen.

    Yang terpenting, Anton menyebut pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat. "Pemerintah cukup menyadari itu, makanya daya beli untuk masyarakat menengah ke bawah terus dijaga, bansosnya lumayan besar di 2019," kata dia.

    Adapun inflasi pada tahun ini, menurut Anton, akan relatif aman. Terlebih dengan harga minyak dunia yang tidak setinggi tahun lalu. Kondisi itu juga didukung dengan nilai tukar rupiah yang relatif stabil pada 2019. "kalau pun melemah itu sedikit lah dan tidak begitu mengganggu buat produsen," tutur dia.

    Sebelumnya, IMF memperkirakan ekonomi global pada 2019 ini hanya akan mampu tumbuh 3,3 persen. Bahkan, IMF memperingatkan pertumbuhan ekonomi global pada 2019 ini bisa lebih lamban jika dibandingkan dengan hasil proyeksi mereka. 

    "Kemungkinan revisi proyeksi pertumbuhan akan turun lagi karena risiko tetap condong ke pelemahan," menurut laporan IMF dalam pernyataan mereka seperti dikutip Reuters, Rabu, 10 April 2019. 

    Peringatan itu didasarkan ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina yang sampai saat ini belum menemui titik temu. Selain itu, peringatan juga dikeluarkan terkait Brexit dan kondisi ekonomi di Uni Eropa.

    IMF menyatakan pertumbuhan ekonomi Eropa saat ini sudah melambat dan secara substansial menyumbang banyak pelemahan dalam perkiraan penurunan pertumbuhan global. Prospek pertumbuhan Eropa kemungkinan semakin suram karena Jerman saat ini dilanda masalah dengan kinerja ekspor, belanja konsumen dan penjualan mobil.

    Kinerja tiga komponen penopang pertumbuhan ekonomi Jerman tersebut belakangan ini melemah. Agar proyeksi tersebut tidak menjadi kenyataan, IMF meminta sejumlah negara mengambil kebijakan.

    Baca: Sri Mulyani Sebut Saran IMF Kurangi Utang Tak Relevan dengan RI

    Untuk Jerman, IMF meminta agar mereka segera mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal agar pertumbuhan ekonomi mereka tetap terjaga. Sementara itu, untuk Uni Eropa, IMF meminta kepada mereka untuk terus merangsang ekonomi regional supaya bisa tetap tumbuh. 

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Avengers: EndGame dan Ribuan Jagoan yang Diciptakan oleh Marvel

    Komik marvel edisi perdana terjual 800 ribu kopi di AS. Sejak itu, Marvel membuat berbagai jagoan. Hingga Avengers: Endgame dirilis, ada 2.562 tokoh.