Angkutan Lebaran 2019, KAI Jaga 5.238 Perlintasan Kereta

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan proyek Double-Double Track di Cipinang, 22 Desember 2017. Rel kereta ini untuk memisahkan jalur lintasan KRL Jakarta-Cikarang dengan lintasan antar kota itu ditargetkan rampung pada awal 2019. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan proyek Double-Double Track di Cipinang, 22 Desember 2017. Rel kereta ini untuk memisahkan jalur lintasan KRL Jakarta-Cikarang dengan lintasan antar kota itu ditargetkan rampung pada awal 2019. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Bandung - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Edi Sukmoro mengatakan, seluruh perlintasan kereta akan dijaga petugas selama masa operasi angkutan Lebaran 2019 mulai H-10 sampai H+10, yakni sejak tanggal 26 Mei 2019 sampai 16 Juni 2019.

    Baca juga: Kemenhub Siapkan 1.300 Bus Mudik Gratis Lebaran 2019

    Reason-nya bukan karena apa-apa, karena load volume kendaraan saat operasi Lebaran meningkat, orang bawa mobil, kendaraannya juga penuh, kemudian frekuensi kereta juga bertambah,” kata dia di Stasiun Bandung, Jumat, 5 April 2019.

    Edi mengatakan, terdapat 5.238 perlintasan kereta yang akan dijaga petugas. Menurut dia, perlintasan tersebut harus diawasi dengan ketat.

    Edi mengatakan petugas PT Kereta Api juga akan diterjunkan di titik rawan. Di antaranya daerah rawan longsor, banjir, ambles, pencurian dan pelemparan.

    PT Kereta Api mengidentifikasi terdapat 370 titik rawan di seluruh lintasan kereta api yang akan dijaga selama masa angkutan Lebaran 2019. “Total 370 titik daerah rawan ini. Dijaga oleh tenaga ekstra. Mereka nongkrong di situ, manakala (misalnya) ada gejala longsoran menutupi rel, mereka harus memberi tahu. Perjalanan kereta ini harus diamankan,” kata Edi.

    Edi mengatakan, PT Kereta Api akan mengerahkan 1.456 personel untuk menjaga perlintasan kereta dan seluruh titik rawan tersebut.  Menurut dia, akhir April 2019 ini, seluruh direksi PT Kereta Api akan disebar untuk memeriksa seluruh lintasan kereta api.

    “Perjalanan semuanya akan berangkat dari Gambir. Tapi ada dua, yang satu melintasi menuju ke bawah-selatan, kemudian satu lurus menuju utara. Dan nanti akan bersambungan sampai Jawa Timur. Tapi secara prinsip, semua lintas atau jalur akan dilalui untuk mengetahui kesiapan,” kata dia.

    Direktur Keselamatan dan Keamanan PT KAI, Muhammad Nurul Fadhila mengatakan, penjagaan titik rawan di lintasan kereta api tersebut untuk mengantisipasi terganggunya operasional kereta. ”Sehingga antisipasi kami sudah dari jauh sebelumnya, dengan juga mempertimbangkan cuaca tertentu di jalur-jalur atau kilometer tertentu,” kata dia.

    Nurul mengatakan, petugas sengaja dikerahkan berjaga di titik-titik rawan tersebut. “Petugas jaga itu yang akan bisa memberi informasi awal pada saat terjadi longsor atau banjir, untuk mengantisipasi. Sehingga dengan informasi awal yang lebih cepat sampai ke pusat kendali masing-masing Daop (daerah operasi), maka perencanaan perjalanan kereta akan lebih baik, supaya kereta tidak terjebak,” kata dia.

    Nurul mengatakan, perlintasan kereta menjadi perhatian karena, peningkatan volume kendaraan yang melintasi bisa terjadi di semua rute. “Itu yang kita antisipasi. Pada saat yang bersamaan di titik perlintasan itu frekuensi kereta bertambah karena ada kereta tambahan tadi. Menjaga perlintasan itu untuk mengantisipasi kejadian kecelakaan di sana,” kata dia.

    Direktur Operasi Dan Prasarana PT KAI Apriyono Wedi Chresnanto mengatakan, pemeriksaan jalur kereta pada masa angkutan Lebaran 2019 akan dilakukan bersama dengan Kementerian Perhubungan. “Dirjen akan turun untuk Ramp-Check, pemeriksaan jalur. Penjagaan daerah rawan itu akan dilakukan selama satu bulan full. Kalau Posko (Lebaran) itu 22 hari, kita masih ada 8 hari tetap dijaga,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.