BCA dan Bank MNC Tak Ikut Naikkan Bunga Deposito, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat mencoba mesin CS Digital dan mengganti kartu BCA magnetic menjadi kartu BCA berteknologi chip hasil kerja sama dengan Mastercard. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat mencoba mesin CS Digital dan mengganti kartu BCA magnetic menjadi kartu BCA berteknologi chip hasil kerja sama dengan Mastercard. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk. atau BCA dan PT Bank MNC Internasional Tbk. mengaku tak ingin ikut menaikkan suku bunga depositonya saat ini. Meskipun belakangan ini terjadi persaingan ketat dari perbankan meraup likuiditas dengan mengerek bunga deposito.

    Baca: Kerabat Jauh Prabowo Diduga Bobol ATM, BCA: Itu Bukan Mesin Kami

    Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mengikuti persaingan bunga deposito karena memiliki likuiditas yang cukup memadai. Sepanjang tahun lalu, BCA mampu menjaga rasio pembiayaan terhadap pendanaan atau loan to funding ratio (LFR) di kisaran 77 persen - 81 persen.

    "Suku bunga kami terkendali dan bahkan tahun ini kami belum meningkatkan suku bunga deposito," ujar Jahja, Rabu, 3 April 2019. 

    Hal senada disampaikan oleh Direktur PT Bank MNC Internasional Tbk. Rita Montagna. Ia mengatakan perseroan juga tidak terlalu mempermasalahkan tren kenaikan suku bunga deposito di industri perbankan. 

    Rita menjelaskan Bank MNC tidak terlibat dalam persaingan memperebutkan likuiditas. Pasalnya, sejak tahun lalu memilih untuk mengeksplorasi dana murah dari mitra perusahaan yang berada dalam grup MNC. 

    "Kalau industri perbankan (bunga deposito) mungkin naik, tetapi kami tidak. Bahkan, bunga deposito kami turun bertahap," ujar Rita. "Kami fokus dengan mitra satu grup, sehingga kami tidak kekurangan dana." 

    Berdasarkan laporan keuangan Bank MNC, total penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada tahun lalu tercatat mencapai Rp 8,56 triliun. Nilai tersebut turun 4,99 persen dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 9,01 triliun. Porsi dana murah dari produk giro dan deposito atau current account saving account(CASA) mencapai sekitar 20 persen terhadap total DPK. 

    Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan suku bunga deposito belum akan mulai turun dalam waktu dekat. Penyebabnya, perebutan likuiditas di industri perbankan masih cukup ketat karena pertumbuhan kredit jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga. 

    Direktur Group Risiko dan Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto mengatakan bahwa rata-rata suku bunga deposito perbankan pada kuartal I tahun 2019 sudah turun sekitar 8 bps dibandingkan dengan posisi pada kuartal sebelumnya. Meskipun sudah turun, namun LPS belum menyebutnya sebagai sinyal untuk penurunan lebih lanjut.

    Baca: 2018, Laba Bersih BCA Naik 10,9 Persen

    Pasalnya, menurut Doddy, penurunan suku bunga deposito sepanjang kuartal I/2019 yang mencapai 8 bps masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan peningkatan bunga deposito yang terjadi pada kuartal IV/2018 yang mencapai sekitar 130 bps. 

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Umumkkan 9 Partai yang Lolos ke Parlemen dalam Pemilu 2019

    Komisi Pemilihan Umum menyatakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan anggota legislatif di pemilu 2019.