Pengamat: SBR006 Awal Investasi yang Baik untuk Kaum Milenial

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Generasi Milenial. jonathanbecher.com

    Ilustrasi Generasi Milenial. jonathanbecher.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Perencana keuangan Finansial Consulting Eko Endarto mengatakan surat utang saving bonds retail seri keenam atau SBR 006 akan diminati oleh milenial. "Asalkan mudah untuk masuk dan tidak ribet dengan administrasi, saya rasa bisa," kata Eko saat dihubungi, Rabu, 3 April 2019.

    BACA: 4 Fakta Investasi SBR006 Cocok untuk Kaum Milenial

    Dari sisi risiko, kata dia, sebetulnya SBR006 cukup baik sebagai produk awal investasi.
    Dan juga untuk mengajarkan komitmen jangka panjang, di mana investasi itu tidak boleh diambil untuk jangka waktu tertentu.

    Eko juga menilai kalau perbandingannya dengan deposito sebagai produk terdekat, obligasi cukup baik. "Pastinya obligasi cukup baik dari sisi hasil, tapi likuiditasnya tidak sebaik deposito," ujar dia.

    BACA: Investasi SBR006, Kemenkeu: Bentuk Partisipasi dalam Pembangunan

    Sebelumnya Kementerian Keuangan kembali meluncurkan investasi berupa SBR 006 pada Senin, 1 April 2019. Produk investasi ini ditujukan untuk semua individu dan cocok sekali untuk pemula yang ingin belajar berinvestasi dengan risiko minim.

    Saat peluncuran produk investasi ini dihadiri juga seorang travel blogger, Satya Winnie yang merepresentasikan seorang milenial juga harus berinvestasi agar mempunyai kemapanan finansial. “Bahwa kita harus mengelola keuangan dan berinvestasi agar bisa tetap jalan-jalan,” kata Satya di Menara BTPN Jakarta, Senin, 1 April 2019.

    Adapun SBR006 bisa dipilih kaum milenial dengan kemudahan dan keuntungan sebagai berikut:

    1. Investasi dimulai dengan uang Rp 1 juta
    Milenial bisa mulai belajar investasi dengan produk SBR006, dengan pembelian minimal Rp 1 juta. Menurut Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Loto S Ginting mengatakan instrumen investasi ini ditawarkan dengan minimal Rp 1 juta dan berlaku kelipatan sampai Rp 3 miliar perorang.

    Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Loto S Ginting mengatakan investasi ini hanya ditujukan kepada warga Negara Indonesia "Kita harus berbangga, karena orang asing banyak yang tertarik untuk berinvestasi di negara kita," kata Loto, Senin, 1 April 2019.

    2. Risiko yang sangat minimal
    SBR 006 kupon mengambang dengan kupon minimal atau floating with floor ditetapkan sebesar 7,95 persen. Angka ini berasal dari suku bunga acuan yang berlaku pada saat penetapan kupon yaitu sebesar 6 persen ditambah spread tetap 1,95 persen. Angka tersebut adalah angka minimal yang diberlakukan hingga jatuh tempo.

    Menurut Loto S Ginting bahwa kuponnya 7,95 persen acuannya adalah pada saat BI Rates yang berlaku sebesar 6 persen. Dan produk investasi ini juga dijamin keamanannya karena dilindungi oleh undang-undang.

    3. Didukung dengan 14 Mitra Distribusi
    Pada produk SBR 005 hanya didukung dengan 11 mitra distribusi, yakni BRI, BNI, BCA, Mandiri, Permata Bank, Bank BTN, perusahan efek ada Trimegah, dari fintech ada Investre dan Modalku. Lalu ada juga dari perusahaan efek khusus yaitu Bareksa dan Tanamduit.

    Kali ini Kementerian Keuangan kembali memberikan kemudahan dalam pembelian produk SBR 006. Untuk mendukung animo masyarakat yang semakin meluas Kemenkeu juga menambah tiga lagi mitra distribusi , yakni Maybank Indonesia, PT Danareksa Sekuritas dan Invisee. Surat hutang ini bisa dilakukan pembelian secara daring atau online di masing-masing mitra distribusi.

    4. Berjangka waktu 2 tahun
    Bagi kaum milenial yang ingin berinvestasi dan tidak mau berlama-lama, SBR006 sangat cocok karena hanya memiliki jatuh tempo hanya dua tahun. Ini semakin menarik, karena kaum milenial bisa mencairkan sebelum dua tahun.

    Mengutip dari siaran pers Kementerian Keuangan, bahwa produk ini berlaku Early Redemption atau bisa dicairkan 50 persen dari nilai maksimal yang diinventasikan saat sudah melewati waktu satu tahun.

    EKO WAHYUDI I MARTHA WARTA SILABAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.