Dipatok Rp 1 Juta Sebotol, Miras Sophia Diharapkan Setara Wine

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gelas wine (Pixabay.com)

    Ilustrasi gelas wine (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Kupang - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat menginginkan harga jual minuman keras (miras) Sophia mencapai Rp 1 juta per botol atau setara dengan wine dan miras berlabel lainnya. "Kalau bisa harganya capai Rp 1 juta," kata Viktor usai penandatangan MoU produksi dan distribusi miras Sophia di Kupang, Senin, 1 April 2019.
     
     
    Peneliti Undana, Dodi Dharmakusuma mengatakan miras jenis sopi, mome dan arak yang saat ini di konsumsi masyarakat harusnya menjadi aset bagi masyarakat. Dari berbagai kajian yang dilakukan, menurut dia, minuman tradisional itu memiliki efek yang baik untuk kesehatan. "Ketika kembali ke ramuan aslinya. Justru kami temukan beberapa hal yang punya manfaat untuk kesehatan," ujarnya.
     
    Karena itu, Undana melakukan kajian agar Sophia ditambah beberapa ramuan, sehingga bisa menjadi minuman yang khas dan siap untuk dikonsumsi. 
     
    Namun, legalitas beredarnya miras Sophia ini masih terkendala, karena masih dalam proses pembuatan peraturan gubernur (Pergub).  Staf khusus Gubernur bidang hukum, Markus Yohanis Hage mengatakan pemerintah sedang mempersiapkan Pergub tentang tata kelola minuman beralkohol khas NTT. 
     
    Menurut Markus, ada dua aspek yang diatur dalam Pergub tersebut yakni proses pemurniannya dan ada penyediaan yang dilakukan oleh undana. Sedangkan tata kelola niaga dimulai dari siapa yang distribusi, lalu di mana minuman dapat diperjualbelikan dan siapa yg boleh menjualnya. 
     
    "Intinya, minuman yang selama ini dikonsumsi langsung oleh masyarakat, tidak boleh diedarkan, hanya menjadi bahan baku dan harus dimurnikan dulu. "Salah satunya,  siapa yg distribusi adalah PT Nam Sophia Indonesia," katanya.
     
     
    Bahan dasar minuman Sophia adalah arak, moke, sopi yang sekarang ini dikonsumsi secara luas oleh masyarakat NTT. Karena itu, minuman tersebut dengan sendirinya dilarang, sebelum adanya pemurnian.
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.