BI Yakin Indonesia Aman dari Dampak Krisis di Turki dan Argentina

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan hasil-hasil Forum Pembiayaan Infrastruktur dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG//Nyoman Budhiana

    Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan hasil-hasil Forum Pembiayaan Infrastruktur dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG//Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI memastikan sistem keuangan Indonesia aman dari paparan dampak sistemik krisis di Turki, Argentina hingga perlambatan ekonomi yang terjadi di sejumlah negara maju. 

    Baca: BI: Penggunaan Uang Elektronik Tumbuh 66,6 Persen

    Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo. Ia menuturkan sistem keuangan Indonesia berada di level yang aman berdasarkan simulasi yang dilakukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

    "Aman, kan kita kan selalu lakukan simulasi setiap saat, dan selalu bertemu dalam forum KSSK dan kita selalu amati dampak global, dampak nilai tukar, suku bunga terhadap stabilitas sistem keuangan," ujar Dody, Jumat, 29 Maret 2019.

    Dody menjelaskan, kondisi ini juga diperkuat dari data-data keuangan terkait dengan permodalan, return on equity (ROE) serta return on assets (ROA) perbankan di dalam negeri, dan profit perbankan. "Itu semua terdorong," katanya. 

    Tugas KSSK adalah mengawasi dan memantau sejumlah aspek sistem keuangan di dalam negeri dari mulai perkembangan ekonomi, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan hingga penjamin simpanan. 

    Anggota KSSK yang terdiri atas Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). KSSK merilis hasil rapat reguler setiap tiga bulan sekali.

    Secara umum bank sentral melihat masalah krisis di Turki dan Argentina serta perlambatan ekonomi di Eropa, AS dan masalah Brexit memang berpengaruh terhadap pasar keuangan global. Rupiah ikut mengalami depresiasi selama seminggu terakhir sebesar 0,5 persen.

    Namun secara tahun kalender, rupiah masih berada di posisi menguat sebesar 0,9 persen. BI melihat sentimen investor terhadap Indonesia masih sangat positif. Hal ini terlihat dari aliran modal masuk ke dalam negeri, termasuk ke pasar surat berharga negara (SBN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan saham. 

    Baca: Perbankan Dukung BI Bikin Standardisasi QR Code Payment

    Sepanjang minggu lalu, BI mencatat aliran modal ke dalam negeri tercatat mencapai Rp 15 triliun - Rp 16 triliun. Dengan aliran dana tersebut, total aliran dana secara tahun kalender hingga akhir minggu lalu mencapai sekitar Rp 90 triliun. 

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.