Sri Mulyani Sebut Tarif MRT Masih Sesuai Perhitungan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati didampingi Direktur PT Mass Rapid Transit William P Sabandar dan sejumlah pejabat Kementerian Keuangan memberikan keterangan langsungnya kepada media seusai meninjau proyek MRT di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Rabu sore, 6 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati didampingi Direktur PT Mass Rapid Transit William P Sabandar dan sejumlah pejabat Kementerian Keuangan memberikan keterangan langsungnya kepada media seusai meninjau proyek MRT di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Rabu sore, 6 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tarif MRT sesuai ketetapan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan DPRD DKI Jakarta masih dalam rentang yang diperkirakan pemerintah.

    Baca juga: Sri Mulyani Jelaskan Sebab MRT Tak Mungkin Untung dari Jual Tiket

    "Masih dalam range yang selama ini diperkirakan sesuai dengan keinginan menjaga MRT," ujar dia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat, 29 Maret 2019. Sebelumnya, ia menyebut pemerintah telah memutuskan perihal persiapan pemeliharaan, operasi, serta investasi untuk MRT.

    Di samping itu, tarif itu juga sudah mesti sesuai dengan daya beli masyarakat dan bisa menyeimbangkan semua aspek. "Jadi cukup baiklah meskipun tetap akan ada subsidi. Nanti kan bisa berasal dari penerimaan yang berasal dari penerimaan yang berasal dari non passenger," ujar dia.

    Sebelumnya, Anies Baswedan menilai perhitungan tarif MRT Rp 10 ribu per 10 kilometer atau Rp 1.000 per kilometer tidak tepat bahkan menyesatkan. Anies mengatakan itu walau istilah tarif rata-rata itu berasal dari proposal DKI ke DPRD DKI sebelum digelar rapat pimpinan gabungan Senin 25 Maret 2019.

    Usai rapat tersebut, DPRD menyepakati tarif berbeda yakni lebih murah, Rp 8.500 per 10 kilometer. Menolak penetapan itu Anies melobi Ketua DPRD DKI yang keluar kesepakatan baru yang kembali ke proposal DKI. Namun sejak itu Anies tak lagi menyebut tarif rata-rata Rp 10 ribu per 10 kilometer.

    Ini seperti yang diulanginya ketika ditemui di kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Kamis, 28 Maret 2019. "Kalau pakai angka begitu kita jadi misleading," katanya.

    Anies berujar selama ini pemahaman soal tarif MRT berkonsep fixed rate. Padahal, maksud pemerintah DKI adalah perhitungan tarif menggunakan konsep variable rate. "Di situlah kemudian terjadi perdebatan yang akhirnya panjang," ucap Anies.

    Anies selanjutnya mengatakan, besaran tarif MRT mengacu pada tabel yang diusulkan pemda kepada anggota dewan. Dalam tabel itu, tarif MRT bergantung pada jarak tempuh dengan angka terendah Rp 3 ribu dan tertinggi Rp 14 ribu. Ada juga jarak antar dua stasiun tertentu, seperti Dukuh Atas-Bundaran HI, yang tarif MRT tak berubah.

    Sebelumnya, Asisten Bidang Perekonomian Pemerintah DKI Jakarta Sri Haryati juga menyodorkan tabel yang sama ketika diminta menjelaskan perumusan tarif MRT. Termasuk persamaan antara tarif Rp 8.500 flat dengan Rp 8.500 rata-rata yang pernah disebut Anies. 

    "Tabelnya ya. Jadi kalau ditanya berapa tarif MRT tergantung anda dari stasiun mana," kata Sri di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Maret 2019.

    Baca berita Sri Mulyani lainnya di Tempo.co

    LANI DIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.