Trending #SaratogaDown, Ini Penyebab Rugi Perusahaan Sandiaga

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasar Modal Terima Rp 9 Triliun Dana Repatriasi

    Pasar Modal Terima Rp 9 Triliun Dana Repatriasi

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Saratoga Investama Sedaya Tbk., perusahaan milik Sandiaga Uno, dilaporkan mencatat rugi bersih senilai Rp 6,2 triliun sepanjang 2018. Padahal pada 2017 emiten berkode SRTG itu meraup untung Rp3,3 triliun.

    Baca: Erwin Aksa Dukung Sandiaga, JK: Dia Tidak Minta Izin

    Pemberitaan kerugian yang dialami perusahaan investasi milik calon wakil presiden nomor urut 02 ini menarik perhatian masyarakat di dunia maya. Sejak berita kerugian Saratoga itu dirilis pada Selasa, 26 Maret 2019, tagar #SaratogaDown menjadi trending topic di Twitter.

    Apa sebenarnya yang membuat Saratoga merugi?

    Presiden Direktur Saratoga Michael Soeryadjaya mengatakan, perseroan mengalami kerugian karena faktor volatilitas dalam berinvestasi seperti, penurunan harga saham. “Namun, kami tetap percaya harga saham bisa menyamai fundamental perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi Senin 25 Maret 2019.

    Adapun, beberapa faktor eksternal memberikan dampak negatif terhadap portofolio investasi perseroan. Beberapa faktor eksternal itu adalah tren kenaikan suku bunga, fluktuasi nilai tukar mata uang, serta harga komoditas yang turun menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

    Sejumlah anak usaha yang dimiliki oleh Saratoga antara lain, PT Adaro Energy Tbk. dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.

    Baca juga: Untung Buntung Pendukung Jokowi - Maruf dan Prabowo - Sandiaga

    Dalam setahun terakhir, harga saham Adaro memang sudah turun 33,82. Namun, pada perdagangan Kamis 28 Maret 2019, harga saham emiten berkode ADRO itu naik 0,37 persen menjadi Rp1.350 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp 43,18 triliun dan P/E ratio sebesar 7,88 kali.

    Lalu, harga saham Tower Bersama mencatatkan penurunan sebesar 30 persen dalam setahun terakhir. Pada perdagangan hari ini, emiten berkode TBIG itu mencatatkan penurunan sebesar 2,25 persen menjadi Rp3.910 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp17,76 triliun dan P/E Ratio sebesar 7,53 kali.

    BISNIS.COM

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.