Pemerintah Disarankan Fokus di Sektor Jasa ketimbang Ekspor

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

    Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

    TEMPO.CO, Jakarta – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan Indonesia berpotensi kuat meningkatkan pendapatan di sektor jasa. Dibanding ekspor dan produksi barang, jasa menjadi penyokong masa depan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan.

    Simak: Selain Bus, Indonesia Juga Ekspor Gerbong Kereta ke Bangladesh

    “Sektor penghasil barang seperti manufaktur, pertambangan, pertanian pertumbuhannya hanya 3 persenan. Sementara jasa 6 persenan. Jadi buat apa (membahas) ekspor?” kata Faisal Basri dalam diskusi bertajuk Ekonomi Dunia Melambat, Bagaimana Nasib Ekspor Kita di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu sore, 27 Maret 2019. 

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi, menurut Faisal, sejatinya telah menyadari adanya dominasi pertumbuhan jasa ini. Namun pemerintah masih saja terus berfokus untuk merembuk sektor ekspor yang dinilai untuk saat ini bukan kekuatan utama ekonomi Indonesia.

    Faisal mengatakan, di bidang ekspor komoditas, Indonesia tertinggal dengan Vitenam, Thailand, Laos, dan Bangladesh. Utamanya Vietnam, negara ini diakui telah menjadi macan baru di Asia yang telah lebih maju ketimbang lainnya.

    Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia atau Gapmmi Adhi Lukman mengatakan Vitnam telah membuat perjanjian dagang atau free trade agreement (FTA) dengan negara-negara tujuan ekspor, seperti Amerika Latin dan Afrika. Dengan kesepakatan dagang, itu Vietnam memperoleh keringanan bea ekspor.

    Selain itu, menurut Faisal, saat ini masyarakat yang bekerja di sektor jasa mencapai 55 persen. Sedangkan sisanya bekerja di sektor lain non-jasa. Adapun penyumbang devisa negara terbanyak juga berasal dari sektor jasa. “Turis menyumbang 14 miliar dolar dan tenaga kerja menyumbang 11 miliar dolar,” ujarnya.

    Badan Pusat Statistik belakangan merilis laporan yang menyatakan kegiatan ekspor menurun. Sepanjang Februari 2019, ekspor tercatat US$12,53 miliar atau turun 10,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month to month). Jika dibandingkan pada Febuari 2018 (year on year), nilai ekspor juga tercatat turun 11,33 persen.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.