Sri Mulyani Waspadai Pelemahan Ekonomi Cina dan Amerika

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani meresmikan National Export Dashboard (NED) Indonesia Eximbank di Indonesia Eximbank Prosperity Tower, Jakarta, Rabu, 27 Februari 2019. Foto dokumen Eximbank

    Menteri Keuangan Sri Mulyani meresmikan National Export Dashboard (NED) Indonesia Eximbank di Indonesia Eximbank Prosperity Tower, Jakarta, Rabu, 27 Februari 2019. Foto dokumen Eximbank

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perekonomian di Amerika Serikat dan Cina cenderung mengalami pelemahan. "Ini harus kita waspadai secara baik," ujar dia selepas menghadiri acara Rapat Pimpinan Nasional Badan Narkotika Nasional di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa, 26 Maret 2019.

    BACA: Jokowi Ingin Pajak Korporasi Turun, Sri Mulyani: Sudah Disiapkan

    Pelemahan itu, ujar Sri Mulyani, juga sejalan dengan proyeksi ekonomi dunia pada tahun 2019. Kondisi itu, menurut dia agak berbeda dengan 2018. Pada tahun ini, perekonomian dunia diproyeksikan mengalami pelemahan uang cukup signifikan.

    "Kalau kita lihat pertumbuhannya dari 3,9 persen, ke 3,7 persen, ke 3,5 persen, bahkan sekarang mungkin lebih rendah dari ini," ujar Sri Mulyani. "Dan beberapa indikator seperti inverse curve dari yield curve US treasury Amerika yang satu tahun,tiga bulan, dan sepuluh tahun ini biasanya sebagai leading indicator terhadap kemungkinan terjadinya resesi atau pelemahan di Amerika Serikat."

    BACA: Jokowi Beberkan Strategi agar RI Keluar dari Middle Income Trap

    Mengutip prediksi World Bank, pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi  turun dari 3 persen menjadi 2,9 persen pada tahun ini. Sedangkan pertumbuhan ekonomi AS juga diprediksi akan turun dari 2,9 persen menjadi hanya 2,5 persen untuk tahun ini.

    Dengan kondisi melemahnya perekonomian global, Sri Mulyani mengatakan strategi yang mesti dilakukan saat ini adalah memperkuat faktor dalam negeri Indonesia. Karena itu, menurut dia, seluruh instrumen, seperti fiskal, belanja negara, hingga perpajakan, mesti digunakan untuk mendorong investasi berjalan baik.

    Ia melihat momentum pertumbuhan hingga akhir tahun 2018 masih cukup baik.  "Capital market cukup bullish dan capital spending mulai meningkat," ujar Sri Mulyani. Didukung rampungnya beberapa infrastruktur, ia berharap adanya akselerasi belanja modal menjadi lebih efisien. 

    Selanjutnya, Sri Mulyani mengatakan perlunya stabilisasi harga dan pasokan guna menjaga daya beli masyarakat. Sehingga, konsumsi nantinya akan lebih bagus. "Sedangkan dari konsumsi APBN defisit akan dipakai untuk menstimulasi."

    Terakhir, ia menggarisbawahi ekspor Indonesia. Menurut Sri Mulyani, meski perekonomian global melemah, bisa jadi dari sisi regional kondisinya berbeda. Sehingga ia akan melihat peluang ekspor itu dari beberapa negara. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.