Rupiah Rebound dan Menguat ke Level Rp 14.166 per Dolar AS

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Kurs rupiah pada pagi hari ini menguat 19 poin atau 0,13 persen ke level Rp 14.166 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS turun 0,051 poin atau 0,05 persen ke posisi 96,515.

    Baca: Kinerja Perbankan Indonesia Stabil Meski Kurs Rupiah Pasang Surut

    Penguatan nilai tukar rupiah ini melanjutkan rebound saat pembukaan perdagangan hari ini, Selasa, 26 Maret 2019. Kurs rupiah dibuka terapresiasi 7 poin atau 0,05 persen di level Rp 14.178 per dolar AS. 

    Sementara itu, indeks dolar AS terpantau lanjut melemah 0,054 poin atau 0,06 persen ke posisi 96.512. Hal ini terjadi setelah indeks dolar AS berakhir turun 0,085 poin di posisi 96,566 pada perdagangan Senin kemarin.

    Sebelumnya Bank Indonesia menyatakan masih optimistis volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada tahun ini akan menurun. Bahkan volatilitasnya bisa lebih rendah 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, seiring kondisi global yang juga mulai kondusif. 

    Sebab, dari tiga faktor utama pendorong fluktuasi nilai tukar pada 2018, salah satunya mulai kondusif pada tahun ini, yakni yang terkait faktor kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed). Tahun lalu, ada tiga faktor utama volatilitas, yaitu kenaikan suku bunga The Fed, risk off di pasar keuangan global karena adanya perang dagang Cina-AS, dan ketidakpastian Brexit. 

    Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menilai keputusan The Fed yang akan menahan bunga acuan pada tingkat 2,25 - 2,5 persen sepanjang tahun ini, membuat kondisi tekanan global mulai kondusif. "Karena dari tiga faktor ini, satu di antaranya sudah memberi arah yang jelas, tidak akan terlalu menekan rupiah. Seharusnya ini memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah," ujarnya, Sabtu pekan lalu.

    Selain itu, kata Nanang, faktor domestik juga memberikan dukungan positif. Inflasi terjaga di 3 persen dan pertumbuhan ekonomi pun stabil di atas 5 persen. Sementara Current Account Deficit (CAD) yang sedang dan terus didorong untuk berada di angka 2,5 persen pada akhir tahun ini, melalui berbagai upaya oleh BI dan pemerintah. 

    Baca: Ekonom Ungkap Penyebab Rupiah Sulit Menguat Signifikan Tahun Ini

    Jadi, menurut Nanang, dari sisi stabilitas kurs rupiah tahun ini diyakini akan lebih baik dari 2018. "Tapi kurs rupiah jangan dilihat dari hari ke hari, karena ditentukan supply demand. Jadi, bisa saja tiga hari menguat, satu hari melemah. Itu sebuah koreksi yang sehat. Tapi, secara fundamental stabilitas di 2019 lebih baik," ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.