Tarif Sewa Mahal, Operator Seluler Ragu Pasang Jaringan di MRT

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang menunggu keberangkatan kereta MRT Jakarta di Stasiun Bundaran HI, Jakarta, Ahad 24 Maret 2019. Warga berbondong-bondong menjajal Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta Fase 1 dengan rute Bundaran HI - Lebak Bulus setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Penumpang menunggu keberangkatan kereta MRT Jakarta di Stasiun Bundaran HI, Jakarta, Ahad 24 Maret 2019. Warga berbondong-bondong menjajal Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta Fase 1 dengan rute Bundaran HI - Lebak Bulus setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Operator seluler belum juga memanfaatkan perangkat pasif di jaringan MRT Jakarta meski sudah diminta oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.  Sampai MRT diresmikan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi Ahad kemarin, operator seluler belum juga sepakat dengan tarif sewa di jaringan MRT, yang ditetapkan oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. 

    Baca juga: Pengamat: Usulan Tarif MRT dan LRT Memberatkan Penumpang, Jika...

    Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah mengatakan, operator seluler enggan memasang perangkat di jalur MRT karena ada selisih yang tinggi antara harga sewa perangkat pasif yang diminta operator dengan harga sewa yang ditawarkan oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) sebagai selaku  mitra strategis penyedia konektivitas seluler dan jaringan internet nirkabel di kawasan operasional MRT fase I.

    TBIG menetapkan tarif sewa berdasarkan jumlah investasi yang dikucurkan ke MRT dan kewajibannya untuk berbagi pendapatan dengan PT MRT Jakarta.

    “Dari sisi operator seluler, MRT ini tidak atau [hanya] sedikit menambah trafik baru untuk voice dan data, karena pada dasarnya hanya menambahkan trafik yang ada dari jalur lain ke jalur MRT,” kata Ririek kepada Bisnis, Ahad 24 Maret 2019.

    Perbedaaan perspektif tersebut membuat ada perbedaan perhitungan yang cukup lebar antara operator seluler dan TBIG. Dari dokumen yang didapatkan Bisnis, TBIG menawarkan harga Rp3,5 miliar hingga Rp4 miliar per operator untuk sewa perangkat pasif berkapasitas 600 Mbps di 6 stasiun bawah tanah MRT sepanjang 2 tahun pertama. Operator seluler meminta harga sewa Rp1 miliar per tahun.

    Saat dimintai konfirmasi tentang angka tersebut, Ririek mengaku tidak tahu secara detail angka yang diinginkan operator seluler dan Tower Bersama.Dia menuturkan, untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, ATSI terus berdiskusi dengan para pemangku kepentingan, agar permasalahan selisih harga dapat diatasi. “Kami terus diskusikan untuk mencari solusinya bagi semua pihak,” kata Ririek.

    Wakil Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Indonesia (ATSI) Merza Fachys mengatakan harga sewa perangkat pasif di kawasan operasional Mass Rapid Transit (MRT) fase I masih dinegoisasikan. “[Angka sewa] masih berubah, tanyakan ke PT Tower Bersama Infrastructure  angka terakhinya,” kata Merza kepada Bisnis.

    Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara berharap agar penumpang layanan kereta MRT (Moda Raya Terpadu) dapat mengakses jaringan telekomunikasi dari seluruh operator seperti di Singapura. Hingga saat ini baru Telkomsel yang jaringannya menjangkau hingga terowongan MRT.

    Baca: Jokowi Sebut MRT Bakal Jadi Budaya Baru Masyarakat

    Rudiantara meminta semua operator seluler menyediakan jaringan di dalam MRT dan stasiun-stasiunnya. "Masyarakat awam termasuk seperti saya berharap bisa komunikasi di terowongan MRT atau stasiun-stasiun. Jadi tidak beda di Singapura, mereka sudah bisa," kata Rudiantara di Jakarta, Senin 18 Maret 2019.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.