Dekat dengan Bandara Kertajati, Jatigede Diusulkan Jadi Kawasan Ekonomi Khusus

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara suasana Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, Senin, 9 Juli 2018. Waduk yang merupakan sarana irigasi tersebut memiliki kapasitas tampung hingga 979,5 juta meter kubik. ANTARA

    Foto udara suasana Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, Senin, 9 Juli 2018. Waduk yang merupakan sarana irigasi tersebut memiliki kapasitas tampung hingga 979,5 juta meter kubik. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kawasan wisata Jatipadang di Sumedang, Jawa Barat, telah diusulkan menjadi kawasan ekonomi khusus pariwisata atau KEK ke Kementerian Pariwisata. Bupati Sumedang Donny Ahmad Murnir beralasan, daerah tersebut berpotensi menjadi poros pariwisata di Jawa Barat lantaran memiliki kedekatan jarak dengan Bandara Kertajati.

    BACA: Ridwan Kamil Incar Bandara Kertajati untuk Kargo e-Commerce

    “Posisi Kabupaten Sumedang dekat dengan Bandara International Kertajati  di Majalengka, Jawa Barat (Jabar), atau hanya sekitar 46 kilometer. Diproyeksikan, (Jatipadang) akan cepat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata andalan,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Minggu, 24 Maret 2019.

    Adapun pemerintah setempat mengklaim telah menggencarkan pembangunan destinasi di seputar Jatigede. Di antaranya track off road berskala nasional untuk kegiatan trail adventure, wisata tirta, wisata kuliner, dan wisata digital. Selain itu, kata Donny, daerahnya memiliki Bendungan Jatigede yang telah dikembangkan menjadi ikon pariwisata Sumedang.

    BACA: Bandara Kertajati Sepi, Ridwan Kamil: Tong Hariwang

    Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan kunci pengembangan pariwisata, utamanya untuk menjadi kawasan ekonomi khusus, ialah  CEO commitment . CEO commitment yang ia maksud adalah komitmen para gubernur, wali kota, dan bupati, untuk meningkatkan daya saing wisata. “Sekitar 50 persen (keberhasilan pariwisata) sangat tergantung dari CEO commitment,” ucapnya dalam keterangan tertulis.

    Adapun untuk pengembangan pariwisata, kepala-kepala daerah perlu membangun tiga unsur utama. Di antaranya atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Atraksi menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan produk pariwisata. Bisa berupa alam, budaya, atau buatan manusia.

    Sementara itu, amenitas meliputi kuliner, akomodasi, oleh-oleh, dan hal-hal di luar akses dan atraksi. Sedangkan aksesibiltas meliputi dukungan keterjangkauan wisatawan mencapai lokasi. Di luar itu, Arief mengimbuhkan, daerah juga perlu mengembangkan agenda-agenda pariwisata.

    Baca berita tentang Bandara Kertajati lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.