The Fed Beri Sinyal Tak Naikkan Suku Bunga, IHSG Menguat

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar pergerakan Index Saham Gabungan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis 16 Agustus 2018. Sebanyak 149 saham melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah melemah 28,52 poin atau 0,49 persen ke posisi 5.788. Tempo/Tony Hartawan

    Layar pergerakan Index Saham Gabungan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis 16 Agustus 2018. Sebanyak 149 saham melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah melemah 28,52 poin atau 0,49 persen ke posisi 5.788. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -  Indeks harga saham gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia atau BEI pada Jumat berpotensi menguat dipicu sentimen Bank Sentral Amerika Serikat , Federal Reserve atau The Fed yang memberi sinyal tidak akan meningkatkan suku bunga pada tahun ini.

    BACA: Suku Bunga BI Diprediksi Stabil, IHSG Menguat ke Level 6.499,27

    IHSG dibuka menguat 16,56 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.499,27. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 4,04 poin atau 0,4 persen menjadi 1.024,43

    Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Jumat, mengatakan, sentimen perang dagang AS dan China yang masih berlanjut, diperkirakan dapat tereliminasikan oleh sentimen The Fed yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.

    "Sentimen dari pasar tersebut diperkirakan dapat mendorong bagi IHSG untuk kembali melaju ke zona hijau pada perdagangan hari ini," ujar Alfiansyah.

    BACA: Hari Ini IHSG Ditutup Melemah Dipicu Aksi Ambil Untung

    Menurut dia, pernyataan The Fed yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini, dapat dikatakan suatu pergeseran besar terutama untuk mengakhiri gelombang pengetatan pada bank sentral di Asia dan membuka pintu untuk pelonggaran di masa mendatang.

    Menyikapi langkah yang dilakukan The Fed, keputusan Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar enam persen dinilai sebagai keputusan yang tepat.

    "Karena pernyataan The Fed dapat membuka peluang penurunan suku bunga di Asia yang kemungkinan akan dimulai pada kuartal kedua tahun ini yang juga bisa mempengaruhi kebijakan BI," kata Alfiansyah.

    Para pembuat kebijakan mengatakan patokan suku bunga Fed Funds Rate, kemungkinan akan tetap pada tingkat saat ini antara 2,25 persen dan 2,5 persen, setidaknya sepanjang tahun ini. Perubahan itu dinilai agresif karena sebelumnya pada September tahun lalu The Fed berencana akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali untuk tahun 2019.

    "The Fed juga menegaskan bahwa akan bersabar sebelum menaikkan atau menurunkan suku bunga," ujarnya.

    Terkait perang dagang, Presiden Donald Trump mengatakan AS sedang mempertimbangkan akan menahan tarif pada produk China hingga batas waktu yang dianggap substansial. Sebelumnya AS sudah menerapkan bea tarif impor barang China senilai 250 miliar dolar AS.

    "Pernyataan Trump ini menandakan belum meredanya perang dagang," kata Alfiansyah.

    Bursa regional Asia antara lain Indeks Nikkei melemah 45,83 poin (0,21 persen) ke 21.563,09, Indeks Hang Seng melemah 0,78 poin ke 29.070,78 dan Straits Times menguat 3,38 poin (0,11 persen) ke posisi 3.217,03.

    Baca berita tentang IHSG lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.