The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat ke 14.094 per Dolar AS

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar AS di lokasi penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, 28 Maret 2018. Kurs rupiah menyentuh posisi Rp13.745 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu (28/3/2018). TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar AS di lokasi penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, 28 Maret 2018. Kurs rupiah menyentuh posisi Rp13.745 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu (28/3/2018). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada hari ini bergerak menguat ke level Rp 14.094 per dolar AS. Artinya rupiah menguat 94 poin menjadi dibanding posisi sebelumnya Rp 14.188 per dolar AS.

    Baca: Cadangan Devisa Naik, Rupiah Tetap Melemah

    Penguatan kurs rupiah tersebut seiring kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat AS, Federal Reserve (Fed) yang mempertahankan suku bunga. Selain kebijakan suku bunga itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi AS yang disebutkan The Fed juga ikut menguatkan nilai tukar rupiah.

    Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, mengatakan, keputusan The Fed mempertahankan suku bunga Fed Fund Rate di kisaran 2,25-2,5 persen secara tidak langsung berdampak positif terhadap penguatan rupiah. The Fed yang juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2,1 persen dari perkiraan sebelumnya 2,3 persen dan untuk 2020 menjadi 1,9 persen dari dua persen turut mendongkrak penguatan rupiah.

    "Proyeksi ini juga menjadi acuan The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunganya selama tahun 2019 ini pada level saat ini, dan ada potensi turun di tahun 2020 dan 2021," ujar Lana, Kamis, 21 Maret 2019.

    The Fed juga menaikkan proyeksi untuk tingkat pengangguran untuk tahun 2019 dari 3,5 persen menjadi 3,7 persen dan untuk tahun 2020 dari 3,6 persen menjadi 3,8 persen. Sementara untuk tahun 2021, The Fed memproyeksikan tingkat pengangguran di AS naik dari 3,8 persen menjadi 3,9 persen.

    Proyeksi pertumbuhan ekonomi The Fed yang melambat dan diikuti dengan tingkat pengangguran yang meningkat, kata Lana, menjadi indikasi ada fase melambat perekonomian AS. "Walaupun belum dapat dikatakan sebagai resesi, yang secara definisi menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang turun bahkan negatif pada fase depresi yaitu resesi yang dalam," ucapnya.

    Baca: Usai Debat Cawapres, Kurs Rupiah dan IHSG Menguat

    Meski begitu, Lana memperkirakan penguatan kurs rupiah tak bakal berlangsung lama. Ia bahkan memproyeksikan rupiah pada hari ini akan bergerak melemah menuju kisaran antara Rp 14.150 sampai Rp 14.180 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp 14.102 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 14.231 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.