Komisi V DPR Cecar Menteri Perhubungan soal KRL Anjlok

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi didampingi sejumlah dirjen di lingkungan Kementerian Perhubungan menghadiri rapat kerja Komisi V DPR di kompleks DPR/MPR Senayan, Senin, 18 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi didampingi sejumlah dirjen di lingkungan Kementerian Perhubungan menghadiri rapat kerja Komisi V DPR di kompleks DPR/MPR Senayan, Senin, 18 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dicecar sejumlah pertanyaan tentang kondisi perkeretaapian dalam rapat kerja bersama Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat pada Senin, 18 Maret 2019. Wakil Ketua Komisi V DPR RI Anton Sukartono Suratto mengatakan moda kereta api, khususnya kereta rel listrik, belakangan acap ditimpa masalah, seperti kereta anjlok. 

    Baca: KCI Minta Penumpang Tak Abaikan Pelecehan Seksual di Dalam KRL

    Anton menyebut sejumlah insiden kereta anjlok yang terjadi beruntun baru-baru ini. Paling dekat, ia menyinggung kecelakaan KRL yang terjadi di Kebon Pedes, Bogor. “Dalam insiden kereta anjlok di Kebon Pedes, Bogor, VP Komunikasi PT Kereta Commuter Line (KCI) Eva Chairunisa menyatakan belum tahu penyebabnya,” kata Anton di ruang rapat Komisi V DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta,Senin, 18 Maret. 
     
    Kecelakaan itu terjadi pada 10 Maret 2019. Imbas insiden itu, PT Kereta Commuter Line Indonesia (KCI) mencatat ada 17 orang luka-luka dan dievakuasi ke rumah sakit. 
     
    Sejumlah pihak meliputi regulator dan operator langsung menggelar penyelidikan terhadap kecelakaan tersebut. Selang sepekan terjadi, Anton lantas menanyakan hasil penyelidikan Kementerian Perhubungan soal insiden kecelakaan yang melibatkan moda kereta api ini. Ia menduga ada masalah dari sisi perawatan hingga mata anggaran. 
     
    Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengatakan kurangnya perawatan menjadi salah satu musabab KRL di Bogor anjlok. Namun, untuk penelaahan lebih lanjut, Zulkifri mengatakan pihak Kementerian Perhubungan bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT tengah melakukan investigasi dan evaluasi. Hasil penyelidikan itu diperkirakan akan keluar 1-2 bulan ke depan. 
     
    Senada dengan Zulfikri, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan persoalan kereta api anjlok diduga bersumber pada sarana-prasarananya. Ia menyebut, rel KRL mengalami penurunan level. Namun, ia mengatakan tak menutup ada faktor penyebab lainnya, misalnya kelalaian masinis. 
     
     
    Bila terbukti karena infrastrukturnya yang bermasalah, Budi Karya mengatakan rel harus menjalani inspeksi intensif. Meski demikian, ia memastikan Kementerian dan PT Kereta Api Indonesia telah menggelar perawatan rel secara berkala. 
    “Mekanisme inspeksi sudah dilakukan secara rutin,” katanya saat dijumpai di lokasi yang sama. Budi mengimbuhkan, berhubungan dengan kecelakaan kereta di Bogor, KNKT akan merilis surat rekomendasi yang dapat dijadikan patokan Kementerian untuk mengambil sikap. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.