Diresmikan Jokowi, Begini Fasilitas Pelabuhan Sibolga Saat Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memberikan sambutan dalam acara Groundbreaking Pengembangan Pelabuhan Sibolga, di Pelabuhan Sibolga, Sumatera Utara, 20 Agustus 2016. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mengatakan bahwa pengembangan pelabuhan dengan investasi sebesar Rp289 miliar tersebut ditargetkan selesai pada 2017. Biro Pers Setpres

    Presiden Joko Widodo memberikan sambutan dalam acara Groundbreaking Pengembangan Pelabuhan Sibolga, di Pelabuhan Sibolga, Sumatera Utara, 20 Agustus 2016. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mengatakan bahwa pengembangan pelabuhan dengan investasi sebesar Rp289 miliar tersebut ditargetkan selesai pada 2017. Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi secara langsung meresmikan hasil pengembangan Pelabuhan Sibolga di Kota Sibolga, Sumatera Utara pada Ahad, 17 Maret 2019. Berbagai fasilitas saat ini dimiliki Pelabuhan Sibolga dalam menunjang aktivitas warga, khususnya dari Kota Sibolga dan sekitarnya.

    Baca: Jokowi Tetap Datangi Sibolga Meski Sudah Dilarang Kapolri

    Meski baru diresmikan kemarin, namun peningkatan aktivitas diklaim telah terjadi semenjak tahun lalu. “Peningkatan kinerja pelayanan terlihat dari jumlah bongkar muat peti kemas tahun 2018 yang mencapai 7.105 TEUs, meningkat dibandingkan periode tahun 2017 sebesar 6.739 TEUs,” ujar Direktur Utama PT Pelindo I, Bambang Eka Cahyana, saat memberikan kata sambutan Peresmian Pelabuhan Sibolga pada Ahad, 17 Maret 2019. 

    Bambang memaparkan peningkatan jumlah bongkar muat peti kemas tidak terlepas dari telah dilengkapi pelabuhan dengan dermaga Multipurpose dengan panjang keseluruhan 153 meter dan panjang tambatan seluas 405 meter. Tambatan tersebut disebut mampu menyandari empat kapal sekaligus atau maksimal kapal dengan ukuran maksimal 6 ribu GT.

    Kedalaman kolam dalam dermaga tersebut mencapai 6-7 MLWS dan luas lapangan penumpukan 6.061 meter persegi. Sehingga setiap tahunnya, Pelabuhan Sibolga dapat menampung peti kemas hingga 20 ribu TEUs. Sebelumnya, Pelabuhan Sibolga hanya mampu menampung peti kemas sebanyak 7 ribu TEUs per tahun.

    Sedangkan untuk menunjang kualitas dan kecepatan pelayanan bongkar muat, Pelabuhan Sibolga telah didukung dengan peralatan bongkar berupa 1 unit fix crane dengan kapasitas 40 ton.

    “Ini mampu meningkatkan produktivitas bongkar muat dari rata-rata 15 box per crane per hour (BCH), menjadi 25 BCH untuk peti kemas. Sedangkan general cargo dari 60 ton per jam menjadi rata-rata 120 ton per jam, serta 1 unit reachstaker,” beber Bambang.

    Sementara untuk layanan penumpang, saat ini Pelabuhan Sibolga juga diklaim mampu menampung sebanyak 500 orang dari sebelumnya hanya 80 orang. Antara terminal penumpang dengan dermaga kapal feri, dibangun pula skybridge sepanjang 150 meter untuk memudahkan penumpang yang ingin menyeberang.

    Selain itu dengan luas keseluruhan terminal yang mencapai 2.786 meter persegi, Pelabuhan Sibolga diharapkan menjadi ikon baru dengan tampilan dibuat modern yang dipadukan dengan sentuhan etnik khas Sibolga.

    “Pelabuhan Sibolga juga diharapkan dapat menjadi simpul bagi sentra produksi, industri, hasil tambang, transportasi dan logistik di kawasan pantai Barat Sumatera Utara,” harap Bambang.

    Sementara Presiden Jokowi menyambut baik penyelesaian penataan Pelabuhan Sibolga yang telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas tambahan. Harapannya agar bisa menambah fasiilitas storage CPO (Crude Palm Oil) sehingga ekspor langsung CPO melalui Pelabuhan Sibolga.

    Baca: Jokowi Sebut Desain Pelabuhan Sibolga Terbaik di Asia Pasifik

    "Dengan penataan Pelabuhan Sibolga yang memiliki lokasi yang strategis mampu meningkatkan perekonomian khususnya untuk masyarakat sekitar,” ujar Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.