Darmin Nasution Komentari Surplus Neraca Perdagangan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perkonomian Darmin Nasution memberikan keterangan kepada wartawan usai melantik tiga pejabat baru BP Batam di kantornya, Jakarta Pusat, Senin 7 Januari 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Menteri Koordinator Bidang Perkonomian Darmin Nasution memberikan keterangan kepada wartawan usai melantik tiga pejabat baru BP Batam di kantornya, Jakarta Pusat, Senin 7 Januari 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan meski neraca perdagangan pada Februari 2019 mengalami surplus, pemerintah masih perlu bekerja lebih keras lagi. Terutama untuk menjaga kondisi neraca menjadi lebih stabil dan berkelanjutan.

    Baca juga: BPS: Neraca Perdagangan Februari Surplus Setelah Defisit 4 Bulan

    "Butuh kerja jauh lebih keras lagi untuk membuat neraca perdagangan dan transaksi berjalannya bisa jadi konsisten lebih baik," kata Darmin ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat 15 Maret 2019.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik atau BPS mengumumkan neraca perdagangan pada Februari 2019 surplus sebesar US$ 330 juta. Surplus tersebut disumbangkan neraca ekspor-impor dari non migas yang surplus sebesar US$ 790 juta.

    Surplus tersebut terjadi setelah selama empat bulan mengalami defisit. Meskipun neraca dagang mengalami surplus, baik posisi impor atau ekspor keduanya tercatat sama-sama menurun.

    Apalagi, Darmin melanjutkan, saat ini kondisi perekonomian dunia juga masih akan melambat. Kondisi tersebut, salah satunya mulai terlihat dengan menurunnya nilai ekspor Indonesia ke tiga negara tujuan utama seperti Cina, Amerika Serikat dan Jepang.

    BPS memang mencatat pada Februari 2019, pangsa ekspor Indonesia ke tiga negara yakni Cina, Amerika Serikat, dan Jepang menurun. Padahal pangsa pasar ekspor untuk ketiga negara tersebut sepanjang Januari-Februari 2019 mencapai 13,52 persen, 11,54 persen dan 9,24 persen.

    Darmin juga menjelaskan, pemerintah memang perlu menggenjot ekspor untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, pemerintah juga perlu menjaga impor supaya merosot tak terlalu tajam.

    "Jadi saya melihat kami harus bukan hanya perhatian ke ekspor saja tapi juga pada Produk Domestik Bruto tetapi juga impornya," kata Darmin.

    Kendati demikian, Darmin Nasution juga menjelaskan efek posisi impor tersebut tidak bisa dilihat pengaruhnya dalam jangka pendek. Tetapi bisa berpengaruh dalam jangka waktu 1-2 tahun ke depan. Artinya, pemerintah masih memiliki ruang untuk memperbaiki neraca perdagangan serta pada di saat bersamaan tak kehilangan momentum menjaga pertumbuhan ekonomi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.