Bahas Boeing 737 Max 8, RI Jalin Kerja Sama dengan ASEAN

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan seusai menggelar rapat bersama Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu petang, 13 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan seusai menggelar rapat bersama Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu petang, 13 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama dengan otoritas penerbangan negara-negara ASEAN menyikapi kecelakaan beruntun yang menimpa pesawat jenis Boeing 737 Max 8. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kerja sama ini dilakukan untuk menyeragamkan langkah yang akan diambil pemerintah terhadap kelanjutan pengoperasian Boeing jenis baru itu.

    BACA: Pemerintah Minta Rekomendasi FAA Ihwal Kelaikan Boeing 737 Max 8

    "Jadi kita mau samakan dulu bagaimana pandangan kita terhadap kejadian ini," kata Luhut saat ditemui di kantornya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman,  Jakarta Pusat, Rabu, 13 Maret 2019.

    Luhut mengatakan kerja sama ini digelar setelah sejumlah negara memutuskan melarang Boeing 737 Max 8 terbang sementara atau grounded. Negara-negara di ASEAN yang telah menerapkan kebijakan grounded adalah Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

    Bahkan, secara ekstrem, Singapura melarang pesawat produksi Boeing Co itu untuk memasuki teritori penerbangannya. Sementara itu, Thailand baru akan menjalankan kebijakan yang sama pada hari ini, Kamis, 14 Maret 2019.

    Menurut Luhut, Indonesia belum menentukan kapan kebijakan grounded akan dicabut. Ia ingin maskapai Indonesia tak buru-buru memberi lampu hijau Boeing 737 Max 8 untuk kembali mengangkasa.

    "Saya pikir kita enggak akan terburu-buru cabut (kebijakan grounded) itu karena kita enggak mau nanti tiba-tiba ada kecelakaan lagi. Kita sudah sepakat," ucapnya. Sembari melakukan komunikasi intens dengan sejumlah negara pada masa grounded, Luhut mengatakan Kementerian Perhubungan masih menanti
    respons dari Boeing Co.

    Luhut mengimbuhkan, pemerintah Indonesia juga masih menunggu rekomendasi dari otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) yang menyatakan pesawat Boeing 737 Max 8 ini benar-benar aman. Kendati, sejatinya FAA telah mengeluarkan pernyataan bahwa pesawat itu layak terbang.

    BACA: Lion Air dan Garuda Ungkap Alasan Tak Rugi Meski Boeing 737 Max 8 Di-grounded

    Ketua Investigasi Kecelakaan Penerbangan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi Nucahyo Utomo mengatakan dalam waktu dekat ,Boeing Co akan melakukan modifikasi terhadap pesawat Boeing 737 Max 8. Modifikasi dilakukan untuk meyakinkan keselamatan penerbangan.

    Dari pertemuan KNKT dengan Luhut, Nucahyo mengatakan Indonesia akan menunggu langkah modifikasi Boeing 737 Max 8 itu. "Pak Luhut sarankan grounded dulu sampai modifikasi selesai. Kalau sekarang grounded belum ada yang berubah, grounded dicabut, malah lucu," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.