Pesan 49 Unit Boeing 737 Max 8, Garuda Tunggu Hasil Investigasi

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737 Max 8

    Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737 Max 8

    TEMPO.CO, Jakarta -Garuda Indonesia menyatakan larangan terbang sementara terhadap satu unit pesawat jenis Boeing 737 Max 8 milik maskapai tidak mengganggu bisnis perusahaan penerbangan pelat merah itu. Namun, bagaimana dengan rencana perseroan memesan 49 unit pesawat dari perusahaan Amerika Serikat tersebut? 

     
    Direktur Teknik PT Garuda Indonesia Tbk. I Wayan Susena mengatakan, maskapai masih memiliki armada jenis B 737-800 untuk menggantikan B 737 Max 8 yang sedang diinspeksi sejak 12 Maret. "Kami ada satu pesawat stand by untuk mendukung itu [back up B 737 MAX 8]. Lagipula sedang low season," katanya, Rabu, 13 Maret 2019.
     
    Garuda selama ini menggunakan pesawat, yang menurut Flydubai lebih efisien 15% ketimbang NG series itu, untuk rute penerbangan Jakarta--Hong Kong dan Jakarta--Singapura.
     
     
    Soal rencana pemesanan 49 unit B 737 MAX 8 hingga 2024, Wayan menyatakan bahwa perseroan masih menunggu hasil investigasi the National Transportation Safety Board (NTSB), Federal Aviation Administration (FAA), dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
     
    Hasil investigasi itu dilakukan baik terhadap kecelakaan pesawat Lion Air PK LQP di perairan Tanjung Karawang maupun Ethiopian Airlines ET-AVJ di selatan Addis Ababa. "Kami tidak banyak komentar terhadap rencana pembelian ini. Kami menunggu hasil investigasi."
     
    Garuda memesan 50 unit Boeing 737 Max 8 hingga 2024. Satu unit pesawat sudah tiba di Indonesia pada Desember 2017 dan dioperasikan Januari 2018. Pesawat yang awalnya untuk melayani rute domestik itu kini memiliki jam terbang 3.088 dan flight cycle 1.501. 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.