BPN Prabowo Kritik Jokowi, Ada Tol tapi Dilalui Anak Stunting

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Chief Executive Officer (CEO) Indonesia Medika, Gamal Albinsaid, di Jakarta, 22 Maret 2016. TEMPO/Frannoto

    Chief Executive Officer (CEO) Indonesia Medika, Gamal Albinsaid, di Jakarta, 22 Maret 2016. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Gamal Albinsaid melancarkan kritik terhadap pemeritahan Joko Widodo alias Jokowi yang sangat getol membangun ribuan kilometer jalan tol. Menurut Gamal, banyak hal yang lebih prioritas untuk dibangun ketimbang jalan tol, salah satunya yaitu infrastruktur kesehatan.

    Baca: Bukan Infrastruktur, Kubu Prabowo: Yang Penting Makan Daging

    Gamal menyatakan saat ini 30,8 persen balita Indonesia masih menderita penyakit stunting alias kontet, satu kondisi dimana bayi tidak bisa tumbuh lebih besar. Sebagai perbandingan, kata dia, 1 dari 3 balita Indonesia saat ini menderita stunting sehingga memperburuk indikator kesehatan nasional.

    "Infrastruktur kesehatan mungkin ada, tapi lebih banyak kesedot untuk jalan, mungkin ada jalan tol tapi dilalui oleh anak-anak yang stunting," kata Gamal dalam diskusi "akses kesehatan untuk semua," di Kopipahit.id, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Sabtu, 9 Maret 2019.

    Kebijakan soal jalan tol adalah satu aspek yang menciptakan perbedaan kontras antara pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo - Sandi dan pasangan nomor urut 01 Jokowi - Ma'ruf. Dalam berbagai kesempatan, Sandi menyebut jalan tol memang diperlukan, tapi bukan kebutuhan utama Indonesia dan tidak secara langsung menciptakan lapangan kerja baru.

    Sedangkan, Jokowi beralasan jika semua jalan tol sudah terbangun, seperti Trans Jawa danTrans Sumatera, kecepatan distribusi barang dan mobilitas orang di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Ia meyakini bahwa negara yang cepat bisa memenangkan kompetisi dengan negara lain. Dengan begitu, ekonomi Indonesia bisa tumbuh.

    Namun di sisi lain, Gamal juga menyebutkan kondisi stunting di anak-anak Indonesia menyebabkan kerugian yang besar pada ekonomi Indonesia. Akibat stunting ini, Pendapatan Domestik Bruto alias PDB Indonesia berpotensi turun 3 persen, dan dampak ekonomi mencapai Rp 300 triliun.

    Di sisi lain, Jokowi juga dinilai gagal memenuhi sejumlah janji di bidang infrastruktur kesehatan, salah satunya yaitu membangun 5.000 puskesmas yang diucapkan tahun 2014. Alih-alih tercapai, Gamal menyebut realisasinya hanya 286 puskesmas. "Jadi bagi Prabowo-Sandi, pembangunan rumah sakit dan puskesmas jauh lebih penting ketimbang pembangunan jalan tol."

    Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, Okky Asokawati, mengingatkan bahwa Jokowi telah berhasil menurunkan angka balita stunting dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2013, kata dia, Riset Kesehatan Dasar dari Kementerian Kesehatan mencatat angka kejadian stunting nasional mencapai 37,2 persen. Akhir 2018, menjadi hanya 30,8 persen.

    Baca: BPN Prabowo: Sistem Iuran BPJS Perburuk Ketimpangan Kesehatan

    Okky juga menilai keberpihakan Jokowi pada kesehatan pun boleh diuji dibandingkan presiden-presiden sebelumnya. Menurut Okky, baru di masa presiden Jokowi, alokasi kesehatan dalam APBN mencapai 5 persen.Di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, kata dia, angkanya hanya sekitar 2,5 sampai 3 persen. "Jadi Jokowi itu yang mau 5 persen," ujarnya.

    Simak berita terkait Prabowo lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.