Mengapa 90 Persen Bisnis Kuliner di Indonesia Bangkrut

Reporter:
Editor:

Burhan Sholihin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Andrew Ryan Sinaga , CEO Foodizz.id (dok. Foodizz)

    Andrew Ryan Sinaga , CEO Foodizz.id (dok. Foodizz)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Bisnis kuliner sedang meledak belakangan ini. Dari mulai artis, pejabat, atau orang biasa banyak yang terjun di bisnis ini. Lihat saja nama-nama artis di balik bisnis kuliner terkenal seperti Geprek Bensu (Ruben Onsu), Strudel Malang (Teuku Wisnu) sampai kue Princess Syahrini.

    Bisnis kuliner memang sangat menjanjikan. Sebuah bisnis kuliner seperti warteg sederhana di bilangan Tebet saja bisa meraih omzet mencapai Rp 500 juta per tahun. Bisa Anda bayangkan sebesar apa omzet restoran dengan skala bisnis yang lebih besar dari itu.

    Namun demikian, pada kenyataannya, baik bisnis kuliner maupun bisnis lainnya, mempunyai tantangan yang cukup kompleks. Selezat apapun makanan Anda, atau sejago apapun chef yang Anda pekerjakan, tidak menjadi jaminan bisnis kuliner Anda dapat berhasil.

    Baca juga: Foodizz.id dan Tangan di Atas Ingin Cetak 10.000 Pengusaha Kuliner

    Hal ini juga berlaku dari segi popularitas. Tak peduli sebesar apapun usaha Anda merogoh kocek untuk marketing dan promosi, atau seterkenal apapun brand ambassador yang Anda tunjuk, kegagalan dalam bisnis kuliner bisa sangat mudah terjadi. Sebut saja bisnis kuliner milik para artis yang ramai muncul pada awal tahun 2017 lalu. Banyak artis yang berlomba-lomba membangun bisnis kue kekinian. Mereka juga kemudian beramai-ramai saling bersaing membangun restoran makanan. Meski banyak diminati pasar, tidak selamanya bisnis kuliner tersebut laris manis. Banyak restoran dan bisnis kue kekinian tersebut yang akhirnya gulung tikar dalam waktu yang amat singkat dan hanya tersisa segelintir saja. Survei memang membuktikan bahwa 90 persen bisnis baru cenderung gagal.

    Menurut Andrew Ryan Sinaga, Chief Executive Officer Foodizz, sebetulnya kebangkrutan tersebut bisa dihindari bila kita mengetahui betul kondisi bisnis kuliner kita. Riset yang didapat okeh Foodizz.id—ini sebuah platform edukasi bisnis kuliner online, ada beberapa kesalahan yang menyebabkan banyaknya pebisnis kuliner di Indonesia gulung tikar.

    1. Manajemen keuangan yang buruk
    Banyak pebisnis kuliner, khususnya para pelaku baru, yang tidak menguasai betul masalah keuangan. “Padahal keuangan adalah jantung utama sebuah bisnis, jadi harus dijaga dengan sebaik-baiknya,” kata Andrew.

    Acuhnya pemilik bisnis untuk mempekerjakan seorang staf atau bekerja sama dengan seseorang yang cakap dalam keuangan semakin memperburuk bisnis. Anda mungkin mahir dalam banyak hal, tapi bisnis kuliner adalah suatu pekerjaan yang kompleks. Anda harus menentukan di mana letak fokus Anda dalam bisnis tersebut. Dan percayakan bagian lainnya kepada orang lain yang kompeten.

    2. Lemah dalam mengontrol operasional
    Operasional sama pentingnya dengan keuangan. Selagi partner Anda menangani hal-hal yang berhubungan dengan keuangan, Anda bisa mengawasi kegiatan operasional bisnis agar tetap terkendali.

    Lemahnya kontrol operasional sangat berdampak besar terhadap mutu produk dan efisiensi biaya. Jangan sampai hal ini terabaikan dan menjadi permasalahan yang semakin membesar.

    3. Kesalahan dalam mengantisipasi kompetitor
    Ini dia ancaman utama di setiap bisnis, kompetitor. Meski sejauh ini bisnis kuliner Anda “outstanding” dibanding kompetitor lain, Anda perlu tetap mengantisipasinya. Siapa yang tahu jika suatu hari nanti banyak kompetitor bermunculan yang bisa berinovasi lebih daripada bisnis Anda.

    4. Kurang pengetahuan dan pengalaman dalam bisnis kuliner
    Ini merupakan hal paling esensial yang harus dikuasai oleh seseorang sebelum ia mendirikan bisnisnya. Tanpa pengetahuan dan pengalaman yang cukup, Anda pasti akan kewalahan menghadapi permasalahan-permasalahan yang bermunculan sepanjang jalan.

    Maka dari itu, penting bagi para pelaku bisnis kuliner untuk memperkuat pengetahuan tentang bisnis kuliner. Jika Anda tidak mempunyai banyak waktu untuk belajar secara formal, Anda bisa tetap mendapatkan banyak insight seputar bisnis kuliner dari para ahli yang berpengalaman melalui platform online, seperti e-book, e-journal atau bahkan sebuah aplikasi edukasi online seperti Foodizz.id. Melalui aplikasi tersebut, Anda dapat menemukan ribuan jawaban atas kekhawatiran dan permasalahan seputar bisnis kuliner Anda. Anda pun dapat berinteraksi dengan para narasumber sehingga Anda bisa mendapat jawaban yang spesifik atas kendala-kendala bisnis yang tengah Anda hadapi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.