YLKI Sebut Tarif Jalan Tol Sedyatmo Tak Layak Dinaikkan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan melintasi jalan tol fungsional Tegal-Pemalang di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu, 2 Juni 2018. Menurut pengelola Pejagan Pemalang Toll Road, jalan tol fungsional Tegal-Pemalang sepanjang 26,9 kilometer akan mulai dibuka pada H-10 Lebaran, dan pengendara tidak akan dipungut biaya tarif tol. ANTARA

    Sejumlah kendaraan melintasi jalan tol fungsional Tegal-Pemalang di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu, 2 Juni 2018. Menurut pengelola Pejagan Pemalang Toll Road, jalan tol fungsional Tegal-Pemalang sepanjang 26,9 kilometer akan mulai dibuka pada H-10 Lebaran, dan pengendara tidak akan dipungut biaya tarif tol. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi mengatakan tarif jalan tol Sedyatmo tidak layak untuk dinaikkan lagi. Menurut dia operator tol memang berhak menaikkan tarif jalan tol per dua tahun.

    Baca: Mulai Besok Malam, Tol Mandara Bali Tutup 32 Jam

    "Namun (kenaikan tarif tol) bisa dilakukan jika keandalan dan kemampuan jalan tol bisa dipenuhi, melalui standar pelayanan minimal sebagai pra syarat untuk kenaikan tarif tol," kata Tulus dalam keterangan tertulis, Selasa, 5 Maret 2019.

    Menurut dia, tanpa adanya rekayasa lalu lintas yang mumpuni untuk mengembalikan keandalan jalan tol, maka kenaikan tarif jalan tol Sedyatmo adalah bentuk perampasan hak konsumen sebagai pengguna jalan tol.

    Ruas tol Sedyatmo, atau sering disebut sebagai tol bandara, kata dia, akan dinaikkan tarifnya per 14 Februari 2019, sebesar Rp 500. Namun hal tersebut dibatalkan, dan PT Jasa Marga selaku operator tol Sedyatmo. Pembatalan dilakukan atas permintaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Badan Pengelola Jalan Tol. Jasa Marga diminta mensosialisasikan terlebih dahulu sebelum kenaikan tarif dieksekusi.

    YLKI juga menyoroti kondisi di Jalan Tol Sedyatmo. Menurut Tulus, ada beberapa hal yang menyebabkan jalan tol ini tak layak lagi disebut satu-satunya akses ke Bandara Soekarno Hatta.

    Pertama, kata dia, trafik yang melintasi tol Sedyatmo tidak semua menuju ke bandara, tetapi banyak yang ke luar bandara, seperti ke Cengkareng, Rawabokor, dan sekitarnya, bahkan ke Tangerang. "Mix traffic inilah yang menyebabkan akses ke bandara sering terganggu, dan mengakibatkan kemacetan, karena terhambat exit tol di sekitar tol Sedyatmo," ujar Tulus.

    Kedua, kata dia, tata ruang dan tata guna lahan di sekitar tol Sedyatmo sangat buruk, dengan banyak apartemen dan perumahan baru, hotel, mal, dan lainnya. Sehingga dampaknya kepada keandalan tol Sedyatmo tersebut.

    Tulus melanjutkan, faktor ketiga, keandalan Tol Sedyatmo akan makin menurun jika kapasitas penumpang Bandara semakin meningkat. Saat ini penumpang bandara Soetta mencapai 65 juta lebih. Ditargetkan akan mencapai 100 juta pada 2025. Hal ini seiring dengan pembangunan runway 3, dan bahkan terminal 4 bandara Soetta.

    "Jika jumlah penumpang 100 juta ini tercapai, artinya trafik di tol Sedyatmo akan makin padat dan keandalannya makin menurun. Artinya PT Jasa Marga selaku operator tol Sedyatmo, tidak akan mampu memenuhi berbagai indikator untuk meningkatkan pelayanan yang tercakup dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) jalan tol," ujarnya.

    Kecuali jika pemerintah bisa memindahkan 30 persen pengguna tol Sedyatmo menjadi pengguna kereta api bandara, yang sampai sekarang sepi penumpang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?