Stop Jual Tiket di Traveloka, AirAsia: Bisnis Tak Terganggu

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO Grup AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan saat Pembukaan AirAsia Travel Fair di Kota Kasablanka Jakarta, Kamis 9 Februari 2017. Tempo/Tongam sinambela

    CEO Grup AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan saat Pembukaan AirAsia Travel Fair di Kota Kasablanka Jakarta, Kamis 9 Februari 2017. Tempo/Tongam sinambela

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan yakin langkah perusahaannya menghentikan penjualan tiket melalui agen travel berbasis online, Traveloka, tak begitu berdampak terhadap bisnis mereka. "Selama ini kami menggantungkan penjualan ke situs utama kami," ujar dia di Restoran Seribu Rasa, Jakarta, Senin, 4 Maret 2019. 

    BACA: AirAsia Stop Penjualan di Traveloka, Tiket Bisa Pesan di Website

    Dendy tak memungkiri selama ini perusahaannya terbantu dengan kehadiran agen travel, baik konvensional maupun berbasis online. Selama ini online travel agent menyumbang 20 persen penjualan tiket penerbangan AirAsia. Adapun Traveloka berkontribusi hampir separuhnya dari jumlah tersebut. 

    "Tapi dampak akibat suspensi mungkin hanya jangka pendek saja," ujar Dendy. ia yakin para calon penumpang akan langsung mengunjungi laman resmi maskapai setelah mengetahui bahwa tiket penerbangan AirAsia tidak lagi dijual melalui Traveloka. Menurut dia, para penumpang pasti akan membandingkan harga penerbangan tiap maskapai untuk mendapat tarif terbaik.

    Di samping itu, suspensi penjualan melalui Traveloka, menurut Dendy akan menjadi kesempatan bagi maskapai untuk melakukan edukasi kepada pelanggannya agar membeli langsung tiket pesawatnya di laman resmi maskapai. Termasuk mengedukasi soal promo-promo yang sebelumnya tidak tampak bila melalui agen perjalanan. "Jadi tidak ada isu bagi kami."

    AirAsia resmi menghentikan penjualan tiketnya di platform penjualan tiket digital Traveloka. "Kami secara grup mensuspensi penjualan tiket di Traveloka karena kecewa," ujar dia. Suspensi itu, kata Dendy, bersifat permanen.

    BACA:Tiket Hilang di Traveloka, AirAsia Cium Persaingan Tak Sehat

    Persoalan itu bermula dari hilangnya AirAsia dari pilihan tiket penerbangan di platform Traveloka pada pertengahan Februari 2019. Kala itu, ujar Dendy, perusahaannya masih bersabar menunggu pernyataan resmi dari agen travel berbasis digital itu. "Kami menunggu itikad baik Traveloka ada apa."

    Seharusnya, kata Dendy, Traveloka memberitahu persoalan apa yang menyebabkan hilangnya tiket AirAsia dari opsi pembelian pada 14 - 17 Februari 2019 itu. Pasalnya, kalau persoalannya adalah perkara teknis digital, biasanya bisa segera diantisipasi. Namun, perusahaan travel rintisan berpredikat unicorn itu tak kunjung menjelaskan persoalan yang ada. 

    Setelah itu, Dendy mengatakan AirAsia sempat kembali dijajakan di Traveloka. Namun, penjualan itu tak berlangsung lama. Pada 2 Maret 2019, AirAsia kembali hilang dari platform Traveloka. Persoalan sebelumnya pun kembali berulang di mana perusahaan yang didirikan Ferry unardi itu kembali tak memberikan penjelasan atas perkara tersebut.

    Kekecewaan Dendy semakin mendalam saat mengetahui bahwa para calon penumpang yang menanyakan ihwal hilangnya AirAsia dari platform Traveloka tidak diarahkan untuk mengunjungi situs resmi maskapai. Alih-alih, mereka malah disarankan membeli tiket penerbangan dari maskapai lain. "Itu mencederai hubungan bisnis yang selama ini terjalin," kata dia. "Kami resmi mensuspensi penerbangan secara grup."

    Namun demikian, Dendy meminta para pelanggannya tidak khawatir maupun bingung dengan langkah suspensi itu. Sebab, mereka bisa mengunjungi langsung situs dan aplikasi AirAsia untuk memesan tiket. "Tentu saja dengan harga terbaik, dan untuk penerbangan domestik, kami tetap memberi free baggage 15 kilogram."

    Tempo telah berupaya menghubungi Public Relations Traveloka Busyra Oryza namun belum mendapat tanggapan hingga berita terkait AirAsia ini diturunkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.