Seberapa Penting Uni Eropa Bagi Sawit Indonesia?

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Minyak sawit adalah komoditas penyumbang devisa terbesar yang mencapai US$ 22,9 miliar, dikatakan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono.

    Minyak sawit adalah komoditas penyumbang devisa terbesar yang mencapai US$ 22,9 miliar, dikatakan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono.

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga negara produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia yang tergabung dalam Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), yaitu Indonesia, Malaysia, dan Kolombia, bertemu di Hotel Mulia, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Februari 2019. Usai pertemuan, menteri dari ketiga negara sepakat untuk melawan larangan penggunaan biofuel berbahan dasar kelapa sawit oleh Uni Eropa dalam kebijakan Renewable Energy Directive atau RED II.

    BACA: Sawit Watch: Pemerintah Sulit Akui Kebakaran Hutan karena Sawit

    "Para menteri sepakat untuk mengirim joint mission ke Uni Eropa guna menyuarakan isu ini," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam The 6th Ministerial Meeting of Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Kamis 28 Februari 2019.

    Larangan dari Uni Eropa ini muncul karena mereka memasukkan minyak kelapa sawit dalam kategori high-risk Indirect Land Use Change (ILUC) alias pengalihan penggunaan lahan yang memiliki resiko tinggi. Akibatnya, minyak kelapa sawit dinilai berkontribusi pada deforestasi maupun perubahan iklim. Larangan yang semula berlaku 2021 sepakat untuk ditunda hingga 2030 karena adanya gelombang protes dari negara produsen seperti Indonesia.

    BACA: Kebakaran Lahan di Riau Akibat Sawit? Darmin: Tak Usah Dikaitkan

    Lalu sebenarnya, seberapa penting pasar Uni Eropa bagi minyak kelapa sawit Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini? Berikut datanya dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia alias GAPKI dan sejumlah kementerian terkait.

    Sejak 2014, Uni Eropa merupakan pasar kedua terbesar di dunia bagi produk CPO asal Indonesia, setelah India. Tahun 2014, Indonesia mengekspor 4,12 juta ton CPO ke Uni Eropa atau 18,9 persen dari total ekspor CPO yang sebesar 21,76 juta ton.

    Hingga 2017, Uni Eropa masih menempati posisi kedua dan volume ekspor CPO setiap tahunnya terus meningkat. Ekspor CPO ke kawasan itu naik menjadi 4,23 juta ton di tahun 2015 (16 persen dari total ekspor CPO), 4,37 juta ton pada 2016 (17,4 persen) dan 5,03 juta ton pada 2017 (16 persen).

    Sejauh ini, belum ada paparan kinerja ekspor CPO sepanjang 2018. Tapi pada 27 Juli 2018, Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono telah mengumumkan bahwa ekspor CPO ke Uni Eropa pada Semester I 2018 hanya 2,39 juta ton atau turun 12 persen dibandingkan Semester I 2017 yang sebesar 2,71 juta ton. “Isu deforestasi dan kebijakan Uni Eropa ini sedikit banyak mempengaruhi pasar minyak sawit Indonesia di sana,” ujar Mukti dalam keterangannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.