Darmin Nasution: Deflasi Karena Harga Ayam dan Telor Turun

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kanan) didampingi Menteri Perdagangan Enggar Lukito (kiri), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri) dan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso melakukan peninjauan gudang beras milik Perum Bulog di divre DKI Jakarta-Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 10 Januari 2019. Selain mengecek ketersediaan beras, Jokowi juga menyaksikan kegiatan operasi pasar beras Bulog. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kanan) didampingi Menteri Perdagangan Enggar Lukito (kiri), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri) dan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso melakukan peninjauan gudang beras milik Perum Bulog di divre DKI Jakarta-Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 10 Januari 2019. Selain mengecek ketersediaan beras, Jokowi juga menyaksikan kegiatan operasi pasar beras Bulog. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan deflasi yang terjadi pada Februari 2018 dikarenakan harga pangan yang turun. Menurut dia, sumbangan komoditas pangan yang paling besar terhadap deflasi adalah daging ayam, telor ayam, dan bumbu-bumbuan.

    Baca juga: Tiga Jurus Darmin Nasution Atasi Harga Karet yang Anjlok

    "Dan deflasi sumber utamanya ada di bahan makanan atau pangan, yaitu deflasinya 1,11 persen. Terutama apa, terutama daging ayam, telor ayam dan bumbu-bumbuan seperti cabai yang sumbangan deflasinya kira-kira 2,5 persen," kata Darmin saat ditemui di kantornya, Jumat 1 Maret 2019.

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa pada  Februari 2019 terjadi deflasi sebesar 0,08 persen. Dengan adanya deflasi ini, membuat angka inflasi secara tahun kalender (year to date) menjadi 0,24 persen. Sedangkan secara tahunan atau year on year (yoy) 2,57 persen.

    Darmin menuturkan deflasi Februari memang jarang terjadi pada Februari. Sebab biasanya terjadi pada Maret-April atau April-Mei. Namun, bukan berarti deflasi tidak bisa terjadi di bulan Februari.

    Darmin menjelaskan deflasi yang disumbangkan bahan pangan tersebut terjadi karena saat ini tengah terjadi panen. Terutama faktor musim khususnya untuk komoditas bawang dan cabai yang kini tengah panen.

    Selain itu, deflasi juga terjadi karena pada akhir tahun lalu hingga awal tahun 2019 kemarin harga daging dan telor ayam yang sempat merangkak naik hingga 15 persen. Sedangkan untuk ayam dan telor lebih banyak disumbangkan oleh urusan jagung dalam hal ini pakan ayam sudah mulai bisa tersedia dengan baik pada bulan Januari.

    Mantan Gubernur Bank Indonesia ini juga menjelaskan terjadinya deflasi itu juga merupakan tanda-tanda yang baik. Sebab, dimulai dari harga yang sempat tinggi sebelumnya untuk daging telor ayam. Serta karena mulainya masa panen untuk cabai dari yang semula masa paceklik.

    "Jadi ya dua bulan pertama ya kami mulai dengan angka inflasi yang cukup terkendali, sehingga ya bagus," kata Darmin Nasution.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?