Menteri Susi Pamer Tas Ganepo: Dilindas Mobil Bisa Balik Lagi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menunjukkan tas Ganepo. Twitter.com

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menunjukkan tas Ganepo. Twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Susi Pudjiastuti gencar mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik. Sebabnya sampah plastik yang susah terurai, akan mencemari lautan.

    Baca juga: Menteri Susi Resmikan Program S-2 Konservasi Laut di Unpad

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun mengunggah alternatif tas belanja yang bisa digunakan sebagai pengganti plastik. Melalui akun twitternya @susipudjiastuti, Susi berfoto dengan menenteng tas anyam berbahan plastik bernama ganepo.

    "Stop penggunaan Kantong kresek, atau plastik sekali pakai .. lihat betapa cantiknya tas Ganepo yg saya pakai. Harganya hanya rp 16.000.. tidak luntur dan sangat kuat .. dilindas mobil pun balik lagi," tulis Menteri Susi yang dikutip dari akun Twitternya, Rabu 27 Februari 2019.

    Susi mengunggah sebuah foto yang memperlihatkan ia sedang menenteng tas anyaman atau tas ganepo. Foto itu sebagai tanda dukungan ikut serta mengkampanyekan hemat kantong plastik.

    Unggahan Susi Pudjiastuti menuai banyak komentar dari warganet. Pemilik akun Adrie Muhammad bertanya apakah produk tas ganepo produksi dalam negeri atau impor.

    Pertanyaan itu dijawab Susi. "Plastiknya impor bekas tali2 garmen tekstil. Dibuang tidak terpakai.. bu Istiqomah dll membuat kerajinan tas2 ini."

    Menteri Susi Pudjiastuti adalah salah satu tokoh yang sering mengkampanyekan bahaya sampah plastik. Akhir tahun lalu, dia mengingatkan bahwa penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong plastik sehari-hari. Sebabnya, jika tidak segera dihentikan plastik sekali pakai akan terus mencemari kondisi di darat maupun di laut.

    "Plastik jelek seperti kantong plastik ini hancurnya 450 tahun. Kalau tidak segera dihentikan pada tahun 2030 jumlah sampah plastik akan lebih banyak daripada jumlah ikan," kata Susi saat mengelar konferensi pers mengenai Refleksi 2018 dan Outlook 2019, di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Senin, 17 Desember 2018.

    Susi menjelaskan saat ini jumlah sampah plastik telah mencapai angka 3,2 juta ton. Jumlah ini diperkirakan bertambah menjadi sekitar 30 juta ton pada 10 tahun mendatang. Jumlah tersebut, kata Susi, bisa melebihi jumlah ikan di lautan Indonesia yang telah mencapai 28 juta ton.

    Susi juga mengatakan, jika terlalu banyak plastik yang ada tentu akan mencemari lingkungan. Tidak hanya di daratan tetapi juga di lautan. Untuk itu, menurut Susi, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai juga perlu dimulai dari individu masing-masing.

    "Kita kurangi belanja mulai dari diri kita, kita suatu hari Indonesia punya mimpi tidak punya sampah lagi di laut," kata Menteri Susi.

    DRC | DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.