Kisah Superindo Memulai Kantong Plastik Berbayar sejak 2015

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gerai Super Indo. superindo.co.id

    Gerai Super Indo. superindo.co.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) baru hari ini menerapkan kantong plastik tidak gratis di setiap gerai retail modern, Superindo ternyata sudah memulainya sejak empat tahun silam.

    Baca: Belanja Pakai Kantong Plastik Bayar Rp 200 Mulai Hari Ini

    Retail modern dengan format supermarket ini memberlakukan program kantong plastik tigak gratis sejak 2015 lalu dan hingga kini diterapkan secara konsisten. "Jadi Superindo sudah tidak ada gerai toko yang memberikan plastik gratis sejak 2015," ujar Head of Corporate Affairs dan Sustainability Superindo, Yuvlinda Susanta, Kamis, 28 Februari 2019.

    Yuvlinda menjelaskan, Superindo sudah memulai program itu dengan memungut harga plastik sebesar Rp 200 per lembar bagi pelanggan yang ingin menggunakannya. Pemberlakuan kantong plastik berbayar itu dimulai dengan sosialisasi di setiap retail di daerah.

    Sepanjang perjalanannya, Yuvlinda mengakui tak jarang pelanggan tak terima atau menolak program Superindo yang tak menggratiskan penggunaan kantong plastik tersebut. Namun meski sempat sulit dan menerima penolakan dari para konsumen, pemberlakuan program tersebut hingga kini berjalan mulus tanpa hambatan berarti.

    Bahkan, kata Yuvlinda, Superindo mengklaim berhasil menekan penggunaan plastik bagi para pembelinya. Dengan program itu, penggunaan plastik yang tadinya 2 kantong  per transaksi kini menurun drastis. "Hanya sekitar 0,7 kantong plastik per transaksi. Meski membayar Rp 200 per lembar tapi mereka (konsumen) enggan membayar," katanya. 

    Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan kebijakan kantong plastik tidak gratis ini sesuai dengan harapan pemerintah. Target pemerintah adalah sampah yang dihasilkan di Indonesia sebanyak 64 juta ton per tahun dimana sebesar 70 persen merupakan sampah plastik.

    Pemerintah menargetkan dapat mengurangi sampah plastik sebesar 30 persen. "Aprindo dengan hampir 40 ribu toko di Indonesia secara prinsip bersama-sama mendukung program pemerintah dalam pengurangan sampah plastik," ujar Roy.

    Baca: Aprindo: Larangan Penggunaan Kantong Plastik Untungkan Peritel

    Penanganan sampah ini tak hanya dilakukan oleh Indonesia saja tetapi juga tengah ditangani oleh negara lain agar generasi muda mendapatkan kelayakan hidup dari lingkungan yang baik dan terpelihara serta konsisten terjaga.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.