BI Yakin Rupiah Rp 14.000, Faisal Basri: Hanya dengan Doa

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menghitung rupiah di VIP kawasan Cikini, Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Kurs rupiah menguat ke posisi Rp 13.947 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu, 6 Februari 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menghitung rupiah di VIP kawasan Cikini, Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Kurs rupiah menguat ke posisi Rp 13.947 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu, 6 Februari 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior dari Universitas Indonesia Faisal Basri menyindir Bank Indonesia yang menyatakan optimis nilai tukar rupiah bisa berada di bawah Rp 14.000 per dolar Amerika Serikat. Menurut dia, optimisme tersebut hanya dibangun berdasarkan doa bukan usaha.

    BACA: Rupiah Diprediksi Melemah, Sentuh Rp 14.025

    "Tadi Gubernur Bank Indonesia mengatakan optimis nilai tukar rupiah bisa di bawah Rp 14.000, tapi dengan doa bukan usaha," kata Faisal saat menjadi pembicara dalam acara CNBC Economy Outlook 2019 di Hotel Westin, Jakarta Selatan, Kamis 28 Februari 2019.

    Adapun, dalam sesi yang berbeda Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya sempat mengatakan bahwa sepanjang tahun ini nilai tukar rupiah diperkirakan lebih stabil meskipun masih berada di level Rp 14.000 per dolar AS. Perry bahkan cukup optimis dengan kondisi nilai tukar yang bisa berada di bawah level Rp 14.000 per dolar AS.

    Merujuk Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) nilai tukar rupiah Kamis 28 Februari 2019, mencapai level Rp 14.062 per dolar AS atau melemah 58 poin dibandingkan pada hari sebelumnya. Adapun di pasar spot, rupiah diperjualbelikan di level Rp 14.065 per dolar AS atau melemah sebesar 0,25 persen sepanjang hari.

    Menurut Faisal, hal itu disampaikan karena ia melihat strategi Bank Indonesia untuk memperkuat nilai tukar rupiah cenderung mengandalkan masuknya modal asing. Cara inilah yang disebut Faisal sebagai strategi yang lebih banyak doa dibandingkan usaha.

    Sebabnya, jika hanya mengandalkan strategi ini maka rupiah akan sulit untuk stabil. Karena pemerintah tidak bisa memperkirakan apakah aliran modal asing tersebut akan terus masuk ke Indonesia atau tidak.

    "Nah belum kepuncak tuh berarti, masih di jalan tol yang lurus, jadi ati-ati. Sebab tidak ada yang bisa menerka uang akan datang ke Indonesia akan datang ke sini terus atau tidak," kata dia.

    Faisal bahkan mengatakan nilai tukar yang masih rawan tersebut terlihat pada Januari 2019 kemarin ketika pemerintah harus membayar kewajiban utangnya. Akibatnya, cadangan devisa Bank Indonesia saat itu menjadi turun, dan rupiah bisa melemah sedikit.

    Meskipun sekarang nilai tukar rupiah sudah mulai menguat lagi. Tapi bukan berarti telah aman sebab, pada Maret 2019 mendatang masih ada kewajiban deviden dari perusahaan-perusahaan yang ada.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.