Jusuf Kalla Akui Indonesia Negara Paling Telat Mengurusi Pangan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama istrinya, Mufidah, menghadiri acara penganugerahan Satyalancana Kebaktian Sosial di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu, 26 Januari 2019. Tempo / Friski Riana

    Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama istrinya, Mufidah, menghadiri acara penganugerahan Satyalancana Kebaktian Sosial di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu, 26 Januari 2019. Tempo / Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Indoensia adalah negara yang paling lambat mengurusi kebutuhan pokok yakni pangan. Menurut dia, Indonesia saat ini lebih banyak fokus pada sandang dibandingkan pangan.

    Simak: Debat Pilpres kedua, Sandiaga: Prabowo Fokus Isu Pangan - Energi

     

    "Itu kesalahan pemerintah dan termasuk saya. Seringkali bicara sandang pangan papan, tapi baru kelar sandang aja," kata Kalla saat memberikan keynote speech dalam acara CNBC Economi Outlook 2019 di Hotel Westin, Jakarta Selatan, Kamis 28 Februari 2019.

    Kalla menuturkan, selama ini tidak banyak orang yang mengeluh hingga melakukan demo dikarenakan kekurangan sandang atau baju. Tetapi lebih banyak orang yang rela melakukan demo karena kebutuhan pangan atau mengenai kepemilikan tanah.

    Selain itu, menurut Kalla, yang bisa membuat maju bangsa Indonesia adalah dengan membangun sektor manufaktur. Sebab, kata dia, hanya sektor inilah yang bisa mendorong pendapatan masyarakat untuk bisa tumbuh lebih cepat.

    Kalla mencontohkan sehebat-hebatnya dan serajin-rajinnya petani, pendapatannya sulit lebih tinggi dibandingkan pendapatan jika mereka bekerja di sektor manufaktur. "Karena sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya petani pendapatannya paling tinggi Rp 1 juta per bulan," kata Kalla.

    Menurut Kalla, jika mereka bisa diserap di sektor manufaktur pendapatanya bisa meningkat lebih cepat. Rata-rata pendapatan bisa meningkat menjadi sekitar Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. Atau bisa mendapat peningkatan pendapatan 3 kali lipat dibandingkan menjadi petani paling rajin di sawah.

    Adapun, data dari data Bank Indonesia (BI), kinerja industri di triwulan 4 2018 sempat menurun. Data Prompt Manufacturing Index (PMI) BI di triwulan IV 2018 hanya sebesar 51,92 persen. Indeks ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 52,02 persen.

    Baca berita tentang pangan lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).