Mengintip Gedung Pintar Honeywell di Shanghai

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Honeywell menampilkan teknologi kontrol terhadap anjing latih atau K-9 yang bernama K9 Command Control and Survillance Assistance (K9C2SA). Prototype yang ditempelkan pada boneka anjing besar dalam acara Singapore Airshow 2016 di Changi Exhibition Centre ini menarik banyak perhatian pengunjung. TEMPO/FRANSISCO ROSARIANS

    Honeywell menampilkan teknologi kontrol terhadap anjing latih atau K-9 yang bernama K9 Command Control and Survillance Assistance (K9C2SA). Prototype yang ditempelkan pada boneka anjing besar dalam acara Singapore Airshow 2016 di Changi Exhibition Centre ini menarik banyak perhatian pengunjung. TEMPO/FRANSISCO ROSARIANS

    TEMPO.CO, Shanghai - Lewat sebuah layar selebar 60 inci, seorang pria memantau pergerakan karyawan di lantai 3 gedung Honeywell yang berada di kawasan Shanghai, Cina pada Selasa, 26 Februari 2019. Dari tampilan layar yang menggambarkan sketsa ruangan plus ikon orang nampak sebagian besar karyawan ada di sebuah ruang rapat.

    Baca: Honeywell Kirim 10 Guru Indonesia ke Pusat Antariksa Amerika

    Setelah itu, ia menyentuh beberapa tombol operasi yang menampilkan suhu di ruangan tempat para karyawan Honeywell itu bekerja. "Dengan layar ini saya bisa mengetahui para karyawan sedang berkumpul di mana sehingga penggunaan penghangat ruangan tidak sia-sia," kata dia. Hari itu suhu di Shanghai menyentuh angka sembilan derajat Celsius. "Tujuannya untuk efisiensi energi gedung."

    Kantor Honeywell di Cina mulai menggunakan teknologi gedung pintar alias smart building sejak 2017. Mereka membeli gedung dan merombak manajemen sistem energi lama menjadi teknologi yang Honeywell kembangkan. Mereka memprediksi efisiensi dari penggunaan teknologi ini mencapai 20-30 persen.

    Cara kerjanya, Honeywell memasang sensor-sensor di dalam ruang kerja. Baik di bawah meja atau pun di kamar mandi. Sensor ini akan memindai banyak hal. Mulai dari keberadaan manusia, suhu ruangan, cahaya lampu, sampai kelembaban udara. Di gedung pusat Honeywell Shanghai ada 100 ribu sensor terpasang.

    Cara kerjanya sederhana, sensor akan membaca pergerakan manusia yang kemudian mengirimkan datanya secara real time ke server. Dari situ, bagian manajemen gedung bisa membaca pergerakan manusia. Sehingga mereka dapat mengatur pelbagai macam hal seperti penggunaan lampu sehingga hemat tenaga.

    Tak hanya mengatur penggunaan energi, smart building juga menerapkan sistem keamanan ketat. Salah satunya adalah pemindai wajah sebagai pengganti sidik jari atau kartu untuk membuka akses pintu. "Sehingga akan lebih aman, sebab biometri wajah tak bisa dipalsukan," kata dia.

    Presiden Honeywell Indonesia Roy Kosasih mengatakan sudah ada beberapa gedung yang mengaplikasikan smart building di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Indonesia One, Askrindo Tower, Thamrin 9, Pancoran Chinatown, Gedung KPK, Perpustakaan Nasional, dan Museum Nasional.

    Menurut Roy, ceruk bisnis gedung pintar ini masih sangat besar. "Apalagi pertumbuhan properti di ASEAN pada umumnya dan Indonesia pada khususnya masih sangat tinggi," kata Roy di Shanghai pada Selasa, 26 Februari 2019.

    Roy mengatakan Honeywell Indonesia optimistis bisa menguasai pasar smart building. Apalagi berdasarkan data perusahaan ini, sudah ada 10 juta gedung di Indonesia yang menggunakan teknologi tersebut.

    Menurut Roy, aplikasi gedung pintar tak hanya bisa diterapkan di gedung yang sedang dibangun. Sama seperti kantor pusat Honeywell Cina, Roy mengatakan para pemilik gedung lama di Indonesia pun bisa mengaplikasikan teknologi ini.

    Simak juga: Honeywell Tawarkan Alat Kendali Anjing Latih ke Polda Metro

    "Tinggal apa yang mereka mau, kami bisa menyesuaikan," kata dia. "Yang jelas kami menjanjikan penghematan energi minimal 20 persen dan jika full otomatis maka efisiensi energi bisa sampai 40 persen yang artinya tagihan bulanan operasional bisa ditekan."

    SYAILENDRA PERSADA (SHANGHAI)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.