AirAsia Indonesia Rugi Rp 998 Miliar Akibat Rupiah dan Avtur

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat A330-900 AirAsia X

    Pesawat A330-900 AirAsia X

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendapatan PT AirAsia Indonesia Tbk. sepanjang 2018 tercatat tumbuh 11 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

    Baca: Tiket Hilang di Traveloka, AirAsia Cium Persaingan Tak Sehat

    Pada 2018, emiten penerbangan dengan kode saham CMPP tersebut mengantongi pendapatan sebesar Rp4,19 triliun, tumbuh 11 persen dari 2017 sebesar Rp 3,76 triliun.

    Pertumbuhan pendapatan tersebut didukung oleh peningkatan jumlah penumpang sebesar 13 persen menjadi 5,2 juta seiring dengan pertumbuhan kapasitas sebesar 16 persen. Sementara itu, beban operasi perseroan untuk pembelian bahan bakar avtur meningkat sebesar 53 persen. Pada 2017 total biaya yang dikeluarkan untuk pembelian avtur sebesar Rp 1,2 triliun, sedangkan pada 2018 Rp 1,86 triliun.

    Manajemen AirAsia menjelaskan bahwa beban usaha yang lebih tinggi disebabkan oleh pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi sepanjang 2018 dan tingginya harga avtur. Akibatnya perseroan mencatatkan kerugian sebelum pajak sebesar Rp 998 miliar sepanjang 2018.

    Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan mengatakan bahwa kinerja perseroan pada 2019 akan lebih prospektif dibandingkan dengan capaian 2018. Perseroan telah menyatukan kembali operasional dalam satu terminal di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta yang berdampak terhadap berkurangnya baiaya operasional ke depannya.

    “Kami sangat optimistis, kami dapat memperbaiki kinerja perseroan dan dapat memperbesar pangsa pasar di tahun 2019, yang tanda-tanda perbaikannya telah terlihat di awal tahun 2019,” ujarnya melalui keterangan resminya, Rabu, 27 Februari 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.