Asosiasi: Logistik E-Commerce Cina Pakai Drone, Kita Masih Manual

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menaruh barang pesanan konsumen saat Harbolnas 2018 di Warehouse Lazada, Depok, Rabu, 12 Desember 2018. Harbolnas merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan bersama berbagai e-commerce di Indonesia pada 12 Desember 2018. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Pekerja menaruh barang pesanan konsumen saat Harbolnas 2018 di Warehouse Lazada, Depok, Rabu, 12 Desember 2018. Harbolnas merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan bersama berbagai e-commerce di Indonesia pada 12 Desember 2018. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Penerapan e-logistic oleh para pelaku dagang e-commerce atau dagang-el di Indonesia dinilai masih berada pada tahap awal dan masih tertinggal bila dibandingkan dengan Cina.

    Simak: Jokowi-Prabowo Bicara Unicorn, 90 Persen Produk E-Commerce: Impor

    Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung menyatakan, model bisnis dagang-el lebih sederhana ketimbang ritel offline yang memerlukan gudang. Dalam platform dagang-el, penyedia hanya menjadi sarana pemasaran, mendata barang yang masuk dan ke luar, serta bekerja sama dengan perusahaan logistik untuk pengiriman.

    “Kalau e-logistic kan sudah semuanya otomatis, kita masih tahap awal. Kalau di luar seperti di Cina kan sudah bisa otomatis antar pakai drone, robot, segala macam. Kalau di sini, saya melihatnya sistemnya masih manual perpindahannya,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Senin 25 Februari 2019. 

    Meskipun demikian, dia menyatakan sejumlah pelaku dagang-el yang merambah bisnis ritel offline atau O2O (online- to-offline) seperti Blibli dan Bukalapak memiliki gudang untuk mendukung distribusi rantai pasok produk yang dipasarkan. Namun, menurutnya hal ini tidak akan menjadi tren bagi seluruh pelaku dagang-el.

    Pasalnya, dia menilai sistem pergudangan membutuhkan investasi yang cukup besar. Hal tersebut dikhawatirkan justru mengurangi potensi keuntungan yang diraih oleh para pelaku dagang-el.

    “Kelebihan marketplace kan cost­-nya tidak besar ketimbang ritel. Ketika menyediakan gudang juga, nanti keuntungannya malah berkurang” ujarnya.

    Lebih lanjut, dia memperkirakan butuh sekitar 2—3 tahun lagi bagi para pelaku dagang-el sepenuhnya akan menerapkan otomatisasi atau e-logistic. Hal tersebut bergantung pada kebutuhan pengiriman dan penyimpanan produk serta perkembangan bisnis dagang-el di Tanah Air.

    VP Merchant Bukalapak Howard Gani menyatakan, tujuan pengembangan teknologi dalam sistem logistik adalah untuk mempermudah pengiriman barang dari penjual ke pembeli. Kemudahan ini bisa dalam bentuk mempermudah akses untuk mengirimkan barang, mempersingkat jalur distribusi, dan lain-lain.

    “Inisiatif-inisiatif ini nantinya dapat memberi nilai lebih ke user, seperti mempercepat jangka waktu pengiriman dan menekan cost pengiriman barang sehingga akan semakin affordable untuk para konsumen,” ujarnya.

    Adapun saat ini,  pihaknya bekerja sama dengan sejumlah mitra logistik kami seperti, JNE, J&T, TIKI, Pos Indonesia, Sicepat, Ninja, Lion, Grab, dan Gosend. Sistem logistik di Bukalapak juga telah terintegrasi host-to-host dengan semua mitra logistiknya di Indonesia sehingga pengguna dapat menggunakan aplikasi Bukalapak untuk memproses dan memastikan posisi barang yang sedang dikirimkan secara realtime.

    Bukalapak juga memiliki tim BukaBantuan yang juga selalu ready untuk men-supportpara pembeli dan pelapak kita dalam menanggulangi kendala pengiriman barang e-commerce yang ada.

    “Proporsi [pengiriman barang] masih lebih banyak di ekspedisi biasa, karena same day delivery memiliki limitasi di jarak yang bisa dicakup,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.