Tiket KAI Bengawan untuk H-10 Lebaran Sudah Terjual 90 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah calon penumpang saat melakukan pemesanan tiket kereta api mudik lebaran 2019 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 25 Februari 2019. PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah membuka penjualan tiket kereta api untuk angkutan lebaran 2019/1440 H mulai pada Senin, 25 Februari 2019 hingga 18 Maret 2019 dengan jadwal keberangkatan jadwal keberangkatan 26 Mei 2019 sampai 16 Juni 2019 atau (H-10) sampai (H+10). TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah calon penumpang saat melakukan pemesanan tiket kereta api mudik lebaran 2019 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 25 Februari 2019. PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah membuka penjualan tiket kereta api untuk angkutan lebaran 2019/1440 H mulai pada Senin, 25 Februari 2019 hingga 18 Maret 2019 dengan jadwal keberangkatan jadwal keberangkatan 26 Mei 2019 sampai 16 Juni 2019 atau (H-10) sampai (H+10). TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Agus Komarudin menuturkan tiket kereta untuk keberangkatan H-10 Lebaran, yaitu 26 Mei 2019,  belum banyak dipesan oleh masyarakat. Hal tersebut berdasarkan pantauan hingga pagi hari tadi, Senin, 25 Februari 2019 pukul 06.00 WIB. KAI mulai menjual tiket untuk mudik Lebaran sejak dinihari ini pukul 00.00 WIB.

    Baca: Tiket Kereta Lebaran Dijual Mulai Nanti Malam, Simak Cara Belinya

    "Baru Kereta Api Bengawan saja yang terlihat sudah 90 persen penjualannya," ujar Agus dalam pesan singkat, Senin, 25 Februari 2019. KA Bengawan adalah kereta kelas ekonomi yang melayani rute Stasiun Pasar Senen, Jakarta - Stasiun Purwosari, Solo.

    Menurut dia, penjualan tiket yang dimulai pada dinihari tadi memang baru untuk perjalanan H-10 Lebaran, sehingga pemesannya belum signifikan. Biasanya, para pemudik berharap mendapat tiket pulang untuk H-7 hingga H-1 Lebaran.

    PT KAI mulai menjual tiket kereta lebaran keberangkatan untuk masa angkutan Idul Fitri 2019 pada Senin dini hari pukul 00.00 WIB atau sejak H-90 sebelum keberangkatan.

    "Untuk mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 5-6 Juni 2019, tiket kereta untuk keberangkatan mulai 26 Mei 2019 atau H-10 Lebaran sudah bisa dibeli mulai Senin, 25 Februari 2019," kata Direktur Utama Edi Sukmoro pada konferensi pers di Ruang Posko Stasiun Gambir, Jakarta, Ahad, 24 Februari 2019.

    Edi menjelaskan calon penumpang dapat melakukan pembelian tiket kereta lebarandi situs resmi kai.id, aplikasi resmi KAI Access, dan aplikasi perjalanan yang bermitra lainnya, mulai Senin, 25 Februari 2019 pukul 00.00 WIB atau dini hari nanti.

    Selama Lebaran 2019, KAI mengoperasikan 356 KA reguler dan 50 KA tambahan dengan total mencapai 406 KA. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebanyak 3 persen dari jumlah tahun sebelumnya yaitu 393 KA.

    Setiap harinya, KAI menyediakan 247.010 tempat duduk untuk KA Jarak Jauh dan KA Lokal yang pada 2019 mengalami kenaikan sebanyak 5 persen dari tahun sebelumnya yaitu 236.210 tempat duduk.

    "Tambahan 5 persen ini kami pertimbangkan dengan ketersediaan kereta yang ada. Kapasitas yang ditambah ini mengait ketersediaan yang ada. Biasa setelah sebulan penjualan, kami akan membuka penjualan kereta tambahan lagi," kata dia.

    Ada pun KAI menyediakan 50 KA tambahan selama Lebaran 2019 yang dapat dipesan mulai H-60. Penambahan KA ini dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah penumpang KA pada masa arus mudik dan balik Lebaran 2019.

    Baca: PT KAI Perpanjang Tiket Promo Kereta Pangandaran Sebulan Lagi

    Sebanyak 50 KA tambahan Lebaran 2019 tersebut terdiri atas 27 KA eksekutif dan bisnis, 11 KA ekonomi non-PSO, 4 KA ekonomi PSO, dan 8 KA yang memanfaatkan rangkaian idle. KAI memperkirakan puncak arus mudik akan terjadi Rabu, 29 Mei 2019 (H-7) dan puncak arus balik diperkirakan akan terjadi pada Minggu, 9 Juni 2019 (H+3).

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.