Smartfren Merger dengan XL? Ini Penjelasan Presdir Smartfren

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Direktur PT Smartfren Telecom Tbk. Merza Fachys dan Direktur PT Smartfren Telecom Tbk. Antony Susilo usai mengelar Publik Expose Insidentil di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu 20 Februari 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Presiden Direktur PT Smartfren Telecom Tbk. Merza Fachys dan Direktur PT Smartfren Telecom Tbk. Antony Susilo usai mengelar Publik Expose Insidentil di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu 20 Februari 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) membantah adanya wacana perusahaan bakal diakusisi atau merger dengan PT XL Axiata Tbk. (EXCL). Presiden Direktur Smartfren Telecom Merza Fachys mengatakan kabar aksi korporasi yang berembus belakangan itu tidak masuk dalam laporan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB.

    BACA: Smartfren Bakal Buka Jaringan Baru di Pulau Natuna

    "Tidak ada yang lain kecuali yang dilaporkan itu," kata Merza dalam acara Publik Expose Insidentil di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu 20 Februari 2019.

    Pada Senin 18 Februari 2019, saham FREN dan EXCL sempat melonjak setelah santer terdengar isu adanya marger diantara keduanya. Bahkan hingga Selasa siang, 19 Februari 2019 Fren menguat 6,71 persen ke Rp 318 per lembar. Sedangkan saham XL saat itu telah naik 2,77 persen ke Rp 2.600.

    BACA: Smartfren Bidik 10 Juta Pelanggan Baru di Tahun 2019

    Adapun, hingga pukul 12.10 WIB hari ini, saham FREN justru melemah 4,17 persen ke level Rp 276 per lembar. Sedangkan saham EXCL sendiri juga tercatat melemah sebesar 1,92 persen ke level Rp 2560 per lembar.

    Merza menjelaskan isu mengenai adanya merger tersebut berawal dari makin besarnya tekanan terhadap perusahaan telekomunikasi. Salah satunya karena perubahan konsumen pengguna layanan SMS menjadi pengguna paket data atau internet.

    Karena itu, isu konsolidasi perusahaan telekomunikasi dianggap menjadi salah satu cara supaya perusahaan bisa bertahan. Selain itu, isu mengenai adanya konsolidasi tersebut akibat adanya dorongan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang menyatakan bahwa industri telekomunikasi akan sehat bila hanya ada 3 perusahaan.

    "Ini yang diangkat banyak media, Smartfren dengan Indosat, Smartfren dengan XL. Tapi nanti bisa dilihat apakah akan terjadi kristalisasi seperti demikian," kata Merza.

    Kendati demikian, Merza tak menampik bahwa pembicaraan mengenai konsolidasi atau merger antar perusahaan memang banyak diperbincangkan. Namun, sampai sekarang belum ada keputusan penting mengenai rencana tersebut.

    "Konsolidasi direspon pelaku masih sebatas diskusi dan analisa meski dilakukan secara intens, bahwa nanti ketemu siapa sama siapa, itu masih belum kelihatan," kata Merza.

    Baca berita tentang Smartfren lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?