Benarkah Klaim Jokowi soal Tak Ada Kebakaran Lahan Sejak 2016?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Api membakar kawasan hutan pinus di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Rabu, 3 Oktober 2018. ANTARA/Dedhez Anggara

    Api membakar kawasan hutan pinus di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Rabu, 3 Oktober 2018. ANTARA/Dedhez Anggara

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi menyebutkan kebakaran lahan tidak terjadi selama tiga tahun terakhir atau sejak 2016 hingga kini. "Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut. Itu adalah kerja keras kita semuanya," ujarnya dalam debat capres yang digelar Ahad malam, 17 Februari 2019.

    Baca: Kala Prabowo Gelagapan Ditanya Jokowi soal Unicorn

    Selama kurun waktu tiga tahun itu pula, kata Jokowi, tidak terjadinya kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut dan merupakan hasil kerja keras dari tiap pemangku kebijakan. "Dan kita juga ingin mengurangi sampah plastik di sungai maupun di laut. Saya kira itu dedikasi yang ingin kita berikan pada bangsa ini untuk Indonesia maju," tuturnya.

    Berdasarkan cek fakta yang dilakukan Tempo.co berkolaborasi dalam program 'Live Factchecking' cekfakta.com, pernyataan Jokowi itu keliru. Pasalnya, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan pada 2015 luas area hutan terbakar seluas 2.611.411 hektare.

    Angka itu menurun pada 2016 ketika luas area hutan terbakar mencapai 438.363 hektare. Meski begitu, angka itu semakin turun pada 2017 seluas 165.484 hektare. 

    "Pada tahun 2018, empat hari sebelum pelaksanaan Asian Games ditemukan titik api terbanyak di Riau berjumlah 90 titik," ujar Sekretaris Jendenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Misha Hasan di Kantor Google Indonesia di bilangan, Jakarta Selatan, Ahad, 17 Februari 2019.

    Rincian dari 90 titik itu, kata Misha, meliputi 13 titik di Sumatera Selatan, 27 titik di Bangka Belitung dan 22 titik di Sumatera Utara. Selain itu ada 10 titik di Sumatera Barat, 4 titik di Jambi dan 3 titik di Lampung. 

    Sementara itu, lembaga swadaya masyarakat Greenpeace Indonesia menyebutkan kebakaran hutan terjadi sejak 2015 hingga kini. "Sejak tragedi kebakaran hutan terbesar 2015, kebakaran hutan dan lahan terus terjadi setiap tahun hingga sekarang," seperti dikutip dari akun Twitter @GreenpeaceID pada Ahad malam tersebut.

    Baca: Kutip Bank Dunia, Prabowo: Infrastruktur Tak Berdampak ke Ekonomi

    Cuitan itu berkembang viral sejak disampaikan dan hingga kini telah disukai oleh 8.900 orang. Pernyataan Greenpeace yang menanggapi klaim Jokowi itu menuai komen dari 1.200 orang dan di-retweet sebanyak 9.000 kali.

     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.