Airbus Hentikan Produksi A380, Ini Kata PT Dirgantara Indonesia

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Superjumbo A380 Airbus terletak di landasan di mana ia dibongkar di tempat perusahaan daur ulang dan penyimpanan ruang angkasa Prancis Tarmac Aerosave di Tarbes, Prancis barat daya, 14 Februari 2019. A380 mampu mengangkut 544 orang penumpang dan dirancang untuk menandingi pesawat Boeing 747 yang legendaris. REUTERS/Regis Duvignau

    Pesawat Superjumbo A380 Airbus terletak di landasan di mana ia dibongkar di tempat perusahaan daur ulang dan penyimpanan ruang angkasa Prancis Tarmac Aerosave di Tarbes, Prancis barat daya, 14 Februari 2019. A380 mampu mengangkut 544 orang penumpang dan dirancang untuk menandingi pesawat Boeing 747 yang legendaris. REUTERS/Regis Duvignau

    TEMPO.CO, Jakarta -Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia Irzal Rinaldi Zailani mengatakan PT Dirgantara Indonesia sudah dikabari oleh Airbus jauh sebelum perusahaan itu mengumumkan rencana penghentian produksi A380 pada 2021.

    BACA: Airbus Hentikan Produksi Superjumbo Jet A380 pada 2021

    “Sebenarnya, Airbus waktu sebelum memutuskan untuk memberhetnikan A380 itu, mereka sudah bicara semua dengan yang namanya tier-supplier mereka. Kita kan tier-suplier-nya dia, Kita sedikit banyak sudah tahu tentan isu ini,” kata saat dihubungi Tempo, Jumat, 15 Februari 2019.

    Irzal mengatakan, PT DI  saat ini menjadi pemasok komponen A380 pada kategori Tier-1 “Sejak pertama kali A380 masuk dalam produksi serial mereka, kita sudah jadi Tier-1 supplier mereka,” kata dia.

    Menurut Irzal, PT DI sudah memasok komponen-komponen pesawat A380 itu sejak pesawat itu mulai terbang perdana. “Nyaris sejak dia itu terbang perdana, nyaris 8 tahun yang lalu. Pesawat itu (yang terbang perdana) juga dengan komponen dari kita,” kata dia.

    Irzal mengatakan, sejak awal produksi A380, PT DI sudah mengantungi kontrak dengan Airbus untuk memasok sejumlah komponen pesawat itu., Kontrak tersebut berakhir pada 2020. “”Itu (nilai kontrak) order-nya sekitar 20 jutaan Dollar AS,” kata dia.

    BACA: Luhut: Lion Air dan Garuda Ingin Kerja Sama Pemeliharaan Airbus

    Sejumlah komponen bagian pesawat A380 yang dipasok PT DI. “Kita mensuplai inbord-outbord flat leading edge, itu bagian komponen sayap yang paling depan. Nah itu semuanya kita yang bikin. Kita bikin juga Fixture dan Jig. Fixture itu artinya ada beberapa komponen di dalam sayap yang sifatnya bracket, attachment, itu kita yang bkin,” kata Irzal.

    Irzal mengatakan PT DI berkomitmen menyelesaikan kontrak pesanan komponen yang tercantum dalam kontrak tersebut hingga batas waktu berakhirnya kontrak tersebut pada 2020. “Kita sesuaikan kewajiban, aritnya, kita bisa menyelesaikan itu semua,” kata dia.

    Menurut Irzal, penghentian produksi A380 bakal berpengaruh pada pendapatan PT DI, tapi dia optimis kehilangan pendapatan itu akan ditutup dari kontrak lainnya dengan Airbus. PT DI saat ini tidak melulu memasok komponen pesawat untuk A380, nyaris semua pesawat produksi Airbus ada bagian komponennya yang dipasok oleh PT DI. “Yang paling banyak di situ,” kata dia.

    Potensi pendapatan yang hilang dengan berhentinya produksi A380 misalnya, optimis akan ditutup dengan kontrak pesanan komponen pesawat A320 yang memiliki pangsa pasar lebih luas. PT DI misalnya sudah mengantungi kontrak memasok sejumlah komponen pesawat A320.

    "Sebenarnya A320 itu pangsa pasarnya lebih besar dari A380 yang (komponennya) kita suplai buat mereka itu. Jadi bisa dibilang ada sedikit pengurangan. Tapi mudah-mudahan tetap terecover dengan di kompensasi dari A320,” kata Irzal.

    Sebelumnya, perusahaan manufaktur pesawat terbang Eropa, Airbus, menghentikan produksi pesawat superjumbo A380 karena penjualannya relatif seret. A380 merupakan pesawat terbang terbesar dengan dua tingkat, yang memiliki ruang kabin luas untuk penumpang. Pesawat ini mampu mengangkut 544 orang penumpang dan dirancang untuk menandingi pesawat Boeing 747 yang legendaris.

    Pesawat superjumbo ini kurang laku di pasaran, yang lebih memilih pesawat generasi terbaru dengan ukuran lebih ramping, dan cepat. Manajemen Airbus mengatakan pesawat A380 terakhir akan diproduksi pada 2021.

    “Ini merupakan keputusan menyakitkan bagi kami. Kami telah menginvestasikan banyak usaha, sumber daya, dan keringat. Tapi tentu kami perlu bersikap realistis,” kata CEO Airbus, Tom Enders, seperti dilansir Reuters dan diikuti Channel News Asia pada Kamis, 14 Februari 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.