Bagasi Berbayar dan Kenaikan Harga Kargo Bisa Tekan Pariwisata

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bandara yang sepi, penimbangan bagasi menggunakan timbangan manual, kokpit tanpa panel digital adalah gambaran umum dari kondisi penerbangan Korut.Terlihat suasana kabin pesawat terlihat sudah sangat tua, maskapai penerbangan Korut banyak menggunakan pesawat buatan era soviet. Dailymail.co.uk

    Bandara yang sepi, penimbangan bagasi menggunakan timbangan manual, kokpit tanpa panel digital adalah gambaran umum dari kondisi penerbangan Korut.Terlihat suasana kabin pesawat terlihat sudah sangat tua, maskapai penerbangan Korut banyak menggunakan pesawat buatan era soviet. Dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Institute for Developtment Econimics and Finance Bhima Yudhistira mengatakan kebijakan bagasi berbayar dan kenaikan harga muatan kargo bisa tekan pertumbuhan di industri pariwisata. Salah satunya di industri Usaha Menengah Kecil dan Mikro seperti oleh-oleh.

    Baca juga: Penjualan Oleh - oleh Turun 40 Persen Akibat Bagasi Berbayar

    "Ini tentu agak menyedihkan sebab banyak juga daerah yang bergantung di sektor ini," kata Bhima saat menjadi pembicara dalam acara diskusi bertajuk Mengapa Bagasi Berbayar di Gado-Gado Boplo Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 9 Februari 2019.

    Sebelumnya industri penerbangan menjadi sorotan sejak awal 2019. Mulanya, industri aviasi banyak disorot karena harga tiket yang mahal meski telah melewati peak season setelah libur natal dan tahun baru 2019.

    Setelah itu, pengguna jasa penerbangan dikejutkan dengan sejumlah kebijakan maskapai untuk menaikkan harga bagasi pesawat. Khususnya untuk penerbangan dengan pesawat low cost carrier atau LCC.

    Belakangan, industri logistik yang menjadi sasaran dengan adanya kebijakan maskapai untuk menaikkan harga kargo atau jasa pengiriman barang lewat udara. Akibat ini, salah satu asosiasi di bidang logistik mengancam akan melakukan pemboikotan jika kebijakan ini terus berlanjut.

    Bhima mengatakan, jika kondisi tersebut terus berlanjut, hal itu tentu akan berdampak pada tingkat okupansi hotel khususnya hotel bintang 1. Hotel bintang 1 selama ini dikenal menjadi tempat tinggal bagi wisatawan domestik khususnya milenial, yang hobi memanfaatkan tiket murah untuk berwisata.

    Menurut Bhima, indikasi dampak tersebut terlihat sejak harga tiket yang telah melonjak sejak akhir 2018. Akibatnya, okupansi hotel di bintang 1 pada akhir tahun hanya mencapai 44 persen.

    "Ini baru hanya dari kenaikan tiket saja. Tapi tentu harus dipantau lagi di bulan Februari dan Maret sebab jika tidak akan berdampak pada tingkat kunjungan wisata pada 2019," kata Bhima.

    Selain itu, kata Bhima, dalam jangka panjang bakal berimplikasi terhadap tingkat inflasi. Indikasi tersebut terlihat dengan masuknya komponen harga tiket sebagai penyumbang inflasi nomor 6 tertinggi dari total keseluruhan pada 2018. Padahal, tahun 2017 komponen harga tiket masih berada pada posisi ke 16 tertinggi penyumbang inflasi.

    Apalagi, pemerintah kini mulai mengandalkan wisatawan domestik setelah wisatawan manca negara berkurang akibat bencana alam. Sayangnya, wisatawan domestik sangat peka terhadap adanya kenaikan harga tiket ini terkait kebijakan bagasi berbayar. "Artinya, jika harga di tingkat konsumen seperti tiket terus naik tersebut, bisa berdampak pada menurunnya minat wisatawan lokal untuk bepergian," kata Bhima.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.