Defisit Transaksi Berjalan Dianggap Tak Terlalu Pengaruhi Pasar

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Defisit transaksi berjalan harus ditutup oleh aliran modal.

    Defisit transaksi berjalan harus ditutup oleh aliran modal.

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Riset CORE Indonesia Piter R. Abdullah mengungkapkan defisit di transaksi berjalan dan neraca pembayaran tidak akan mempengaruhi pasar secara signifikan. Pasalnya, pelebaran defisit dari sisi transaksi berjalan sudah diperhitungkan oleh investor sejak akhir tahun lalu. 

    Baca juga: Defisit Transaksi Berjalan Kuartal 4-2018 3,57 Persen dari PDB

    Khususnya pada Januari saat rilis neraca perdagangan, dia melihat saat itu besarnya defisit transaksi berjalan sudah bisa diprediksi pasar.  "Saya kira ini tidak akan berdampak ke rupiah," kata Piter, Jumat, 8 Februari 2019. Jika rupiah melemah, dia menuturkan hal tersebut bukan digerakkan oleh sentimen atas pelebaran defisit transaksi berjalan. 

    Kemarin, Bank Indonesia merilis data neraca transaksi berjalan Indonesia yang mengalami mengalami defisit 2,98 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sebesar 31,1 miliar dolar AS sepanjang 2018. Realisasi tersebut masih sesuai dengan proyeksi Bank Sentral dan pemerintah bahawa defisit transaksi berjalan di kisaran tiga persen dari PDB.

    Ke depannya, Piter memperkirakan defisit transaksi berjalan akan tetap melebar karena kondisi global akan menyulitkan pemerintah untuk mengembalikan neraca perdagangan ke kondisi normal. 

    Namun, dia melihat kesempatan perbaikan neraca pembayaran pada 2019 terbuka. Selama global masih dipenuhi ketidakpastian oleh perang dagang, krisis Venezuela, dan Brexit yang menyebabkan perlambatan ekonomi global, maka investor masih akan memilih untuk menempatkan dananya di pasar berkembang. 

    "Khususnya Indonesia yang relatif menjanjikan return yang lebih tinggi. Artinya neraca modal akan cukup aman," kata Piter.

    Senada, Ekonom PT Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro menuturkan pelebaran defisit transaksi berjalan direspon sepi oleh pasar pada Jumat. Rupiah ditutup menguat 9 basis poin menjadi Rp13.965 per dolar AS. Satria menduga kondisi ini ditopang oleh intervensi BI. 

    "BI mungkin telah melakukan intervensi untuk menjangkar nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir, melihat pilihan BI untuk membawa nilai tukar menguat," kata Satria tentang defisit transaksi berjalan. 

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?