Krakatau Steel Tingkatkan Ekspor ke Malaysia dan Australia

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pembuatan baja di Pabrik Krakatau Steel, Cilegon, Banten, 26 November 2014.  PT Krakatau Steel resmi memiliki pabrik pipa baja, melalui anak usahanya PT KHI Pipe Industry. TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana pembuatan baja di Pabrik Krakatau Steel, Cilegon, Banten, 26 November 2014. PT Krakatau Steel resmi memiliki pabrik pipa baja, melalui anak usahanya PT KHI Pipe Industry. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Produsen baja PT Krakatau Steel (Persero) akan meningkatkan ekspor ke Malaysia dan Australia, karena Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut sukses membebaskan perseroan dari pengenaan Anti Dumping Duty atas produk Hot Rolled Coil (HRC) di Negara Jiran.

    Baca juga: Rugi USD 37 Juta, Krakatau Steel Keluhkan Maraknya Baja Impor

    "Dengan ini kami akan meningkatkan ekspor ke Malaysia karena mereka customer setia Krakatau Steel dari dulu. Dan di zaman saya dorong lagi supaya ikut meningkatkan ekspor nasional," kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim lewat keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019.

    Perseroan memperkirakan kebutuhan baja di Malaysia mencapai 9,4 juta per tahun. Silmy memetakan bahwa ekspor baja akan berkisar 400 ribu-500 ribu ton di Malaysia pada 2019. Sehingga untuk tahun ini, ekspor perseroan diperkirakan naik dua kali lipat dibanding 2018.

    "Nilai ekspor total kami targetkan akan berjumlah sekitrang lebih 10 persen dari total penjualan," katanya.

    Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Purwono Widodo menambahkan Australia juga tidak memperpanjang Anti Dumping Duty untuk produk baja Indonesia sejak akhir Desember 2018. Dengan terbukanya peluang tersebut, ekspor Perseroan tidak hanya mengincar pasar ASEAN tapi juga Australia.

    "Jadi baik ke Malaysia maupun Australia ekspor HRC dan Hot Rolled Plate (HRP) dari Krakatau Steel direncanakan meningkat," kata Purwono.

    Purwono juga menjelaskan secara keseluruhan jumlah ekspor ke Australia memang tidak sebesar di Malaysia. Ditargetkan bahwa Perseroan akan suplai 5.000 ton per kuartal ke Australia.

    Selain Anti Dumping Duty ini, Januari lalu pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pembatasan impor baja lewat Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 110 tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan, dan Produk Turunannya. Peraturan ini mulai berlaku pada 20 Januari 2019 dan diharapkan dapat memberikan peluang pertumbuhan bagi industri baja nasional karena penggunaan baja impor akan dibatasi dan lebih mengutamakan penggunaan baja lokal.

    "Kami optimis bahwa tahun ini Krakatau Steel dapat menaikkan penjualan dan produksi baja sebesar 20 persen hingga 30 persen dibanding 2018," kata Purwono.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.