Triwulan IV 2018, BI: Neraca Pembayaran Surplus US$ 5,4 Miliar

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (kiri ke kanan) Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri, Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati, Direktur Eksekutif INDEF Enny S. Hartati, dan Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Schneider Siahaan dalam diskusi Iluni UI di Kampus Salemba UI, Jakarta Pusat, 3 April 2018. TEMPO/Lani Diana

    (kiri ke kanan) Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri, Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati, Direktur Eksekutif INDEF Enny S. Hartati, dan Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Schneider Siahaan dalam diskusi Iluni UI di Kampus Salemba UI, Jakarta Pusat, 3 April 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI mencatat Neraca Pembayaran Indonesia atau NPI pada triwulan IV 2018 surplus sebesar US$ 5,4 miliar. Surplus ini terjadi setelah pada triwulan II dan II NPI mengalami defisit.

    Simak: Gubernur BI: Neraca Pembayaran Bakal Surplus US$ 5 Miliar

    "Surplus dalam neraca pembayaran triwulan IV ini ditopang oleh adanya peningkatan surplus pada akun transaksi modal dan finansial," kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik BI Yati Kurniati saat mengelar konferensi pers di Kantor BI, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat 8 Februari 2019.

    Adapun, BI sebelumnya juga mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III 2018 mengalami defisit sebesar US$ 4,4 miliar. Angka ini naik dari defisit NPI di kuartal II 2018 yang hanya mencapai US$ 4,3 miliar.

    Yati menjelaskan surplus transaksi modal dan finansial tercatat sebesar US$ 15,7 miliar pada kuartal ini. Angka tersebut tercatat meningkat signifikan dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya yang hanya mencapao UU$ 3,9 miliar.

    Menurut Yati, peningkatan surplus transaksi modal dan finansial ini didukung oleh membaiknya kinerja investasi portofolio, seiring meningkatnya aliran masuk dana asing di aset keuangan domestik. Peningkatan ini juga didukung meningkatnya penerbitan obligasi global oleh pemerintah dan korporasi.

    "Surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat juga menjadi tanda mulai menanjaknya kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik," kata Yati.

    Selain itu, optimisme terhadap prospek ekonomi di Indonesia juga ikut mendorong pelaku usaha domestik melakukan penarikan simpanan di bank luar negeri. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan bisnis sehingga investasi lainnya juga ikut tercatat mengalami surplus.

    Dengan kondisi demikian, sepanjang tahun 2018, transaksi modal dan finansial mencatatkan surplus sebesar US$ 25,2 miliar. Surplus ini terutama ditopang oleh aliran masuk modal berjangka panjang. Meski surplus pada kuartal IV 2018, sepanjang tahun lalu, NPI masih mengalami defisit sebesar US$ 7,1 miliar.

    Sementara itu, posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2018 ikut meningkat menjadi USD120,7 miliar. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

    Simak berita tentang Neraca Pembayaran hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.