Gubernur BI: Rupiah ke Kisaran 13.900 per Dolar AS, Terlalu Murah

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa, 27 November 2018. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa, 27 November 2018. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa hari terakhir bergerak di kisaran Rp 13.900, masih terlalu murah (undervalue) yang mengindikasikan masih terdapat ruang penguatan untuk waktu ke depan.

    Baca juga: Isu Perang Dagang AS- Cina, Rupiah Kembali Melemah

    "Secara hitung-hitungan fundamental, rupiah kita masih 'undervalue' (terlalu murah), baik dari inflasi rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang akan lebih baik, dan juga NPI yang lebih baik," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019.

    Merujuk kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sejak Jumat pekan kemarin (1 Februari 2019), terus merangsek ke level kisaran Rp13.970 dari sebelumnya di Rp 14.072. Pada Jumat ini, kurs tengah BI menetapkan rupiah di Rp 13.992 per dolar AS.

    Adapun di pasar spot, Jumat pagi ini, kurs rupiah dibuka di level Rp 13.995 per dolar AS atau melemah 22 poin dibanding posisi sebelumnya Rp 13.973 per dolar AS.

    Menurut analis ekonomi Samuel Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, pada hari ini, nilai tukar (kurs) rupiah kemungkinan bergerak melemah karena pesimisme yang kembali muncul pada pelaku pasar atas penyelesaian perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

    "Kemungkinan kurs rupiah melemah karena isu perang dagang AS-China," ujar Lana di Jakarta, Jumat.

    Kendati belum ada pernyataan resmi, tetapi pernyataan Presiden Donald Trump bahwa tidak ada pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping, seperti mengkonfirmasi potensi kebuntuan pembicaraan mengenai kesepakatan dagang tersebut pada saat ini.

    Efek perang dagang antara AS dan China terhadap perdagangan global, kata Lana, mulai terlihat. Neraca transaksi berjalan Jepang misalnya, mencatatkan surplus pada Desember 2019, semakin kecil sejak empat bulan terakhir. Penurunan surplus tersebut terutama berasal dari neraca barang yaitu ekspor-impor Jepang.

    Dia mengatakan kekhawatiran utama efek perang dagang AS-China berdampak pada melambatnya ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) juga merevisi proyeksi turun pertumbuhan ekonomi global dari 3,3 persen menjadi 3,1 persen untuk 2019.

    "Kurs rupiah kemungkinan melemah ke tingkat Rp 13.980 per dolar AS sampai Rp 14.000 per dolar AS," kata Lana.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.